Bab 17 – Menginap🔞
Luis
mengajak Bela masuk ke kamarnya. Auranya dan penataannya tak jauh beda dengan
kamar Luis yang ada di rumah, hanya saja tak ada perintilan perempuan disana.
Tentu saja, Luis anak tunggal dan ada perintilan perempuan di rumahnya juga
karena ada Bela.
“Apa tidak
masalah aku tidur bersamamu?” tanya Bela yang ragu untuk tidur sekamar dengan
Luis malam ini.
“Kenapa
memangnya?” tanya Luis heran setelah sikat gigi dan cuci muka sebelum tidur
bersama Bela.
“Y-ya kan
ini tidak seperti…”
Luis
langsung tersenyum paham. “Yaudah jangan berisik makannya,” ucap Luis lalu
mengecup bibir Bela sebelum mematikan lampu utama dan menyalakan lampu
tidurnya.
Bela
membelalakkan matanya lalu menepuk bahu Luis pelan. “Tidak berisik, tentu saja
aku tidak berisik!” omel Bela yang paham kemana arah pembicaraan Luis.
Luis
tertawa dengan respon Bela lalu tiduran di sampingnya sembari memeluk Bela yang
memunggunginya. “Ayahku baik, kan?” tanya Luis sembari mengelus perut Bela
seolah sudah ada kehidupan baru di dalamnya sembari mengecup bahu Bela.
Bela
mengangguk pelan. “Tapi kalian dingin, seperti saling mendiamkan satu sama
lain,” jawab Bela sembari menghela nafas.
“Memang,”
jawab Luis lalu mengecup leher Bela dan memberi sedikit tanda kepemilikannya.
“Tapi kami saling menyayangi, hanya saja caranya berbeda.”
Penjelasan
Luis terdengar masuk akal bagi Bela. Luis masih di terima di rumahnya, masih
memiliki kamarnya sendiri, Bela bahkan juga diterima meskipun tidak di ucapkan
secara langsung tapi tawaran menginap itu sudah cukup. Setidaknya ia tidak di
usir dan di tanyai apapun yang akan menyudutkannya.
“Aku gila,
bagaimana menurutmu?” tanya Luis sembari melepaskan bra yang Bela gunakan.
“Aku
gelandangan, bagaimana menurutmu?” Bela balik bertanya yang membuat Luis
tertawa senang. Kondisinya bukan masalah untuk Bela begitupun sebaliknya. “dr.
Damian apa selalu seperti itu?” tanya Bela lembut dan berhati-hati agar Luis
tidak marah.
Luis
mengangguk lalu menelusupkan tangannya memilin ujung payudara Bela. “Dia selalu
begitu, dari dulu. Dia memang kaku, tadi sudah paling hangat,” jawab Luis
menenangkan Bela lalu membalik tubuh Bela agar ia bisa bercumbu sembari
menempelkan bagian bawahnya yang sudah begitu keras pada Bela.
“Luis!”
tahan Bela yang tau jika Luis sekarang sudah tak mungkin jika hanya
menyentuhnya saja.
“Jangan
berisik…” bisik Luis lalu melumat bibir Bela dengan lembut. “Kalau kau banyak
protes, banyak berisik nanti Ayah kesini,” ucap Luis sejenak lalu kembali
melumat bibir Bela dan menjelajahi mulutnya sembari beradu lidah.
Bela
mengelus bahu dan dada Luis sembari berusaha mengimbangi cumbuan Luis yang
begitu mendominasi dan agresif. Tangan Luis juga menggerayangi punggung dan
pinggang Bela, sesekali meraba bahu dan lehernya agar Bela semakin dekat
dengannya dan ia bisa menggesekkan kejantanannya pada paha Bela yang tak
tertutup apapun itu.
“Belaku…”
rengeknya lalu melepaskan kaos yang Bela kenakan juga branya yang masih belum
100% lepas itu.
“Sstt!
Jangan berisik!” bisik Bela mengingatkan sambil tersenyum menggoda Luis yang
membuatnya tertawa geli dengan godaan Bela itu.
“Kau yang berisik!” ucap Luis tak mau kalah lalu menelanjangi dirinya sendiri sebelum kembali menciumi Bela dan perlahan turun ke