0
Home  ›  Chapter  ›  The Secret Neighbor

Bab 19 – Hamil

Bab 19 – Hamil-1

Sulit bagi Nia untuk bisa ikhlas dan menerima kenyataan jika Ali meninggal. Sekarang ucapannya benar-benar menjadi nyata, ia maupun mantan suaminya sama-sama tak bisa memiliki Ali. Tak ada yang bisa memiliki Ali, sampai akhirnya Ali kembali ke surga seorang diri.

Tak ada asi yang menetes dari putingnya lagi, bersamaan itu pula akun Momy Cow di tutup. Nia mencurahkan segala isi hatinya dalam live straming terakhirnya. Banyak pengikutnya yang menyayangkan keputusan Nia tapi banyak juga yang prihatin dan mendukung apapun pilihannya.

“Aku melakukan semuanya, sejauh ini untuk anakku. Tapi anakku sekarang sudah kembali ke surga. Aku tidak tau lagi harus apa, aku tidak tau lagi apa alasanku harus tetap membuat konten di sini. Aku memang bersenang-senang, aku juga senang ketika kalian memberiku tip atau memuji tubuhku. Sebelumnya aku hanya seorang ibu muda yang di hajar suaminya karena cemburu, aku juga hanya seorang ibu yang bertubuh gemuk dan tidak menarik yang di selingkuhi suaminya setelah melahirkan, aku hanya seorang wanita biasa sebelumnya…” ucap Nia berusaha tegar.

Angga mengelus bahunya sambil menguatkannya agar tidak menangis.

“Aku kebingungan mencari uang untuk mencukupi hidupku dan membayar pengacara juga persidangan untuk merebut hak asuhku kembali. Mungkin jalan yang ku ambil salah. Tapi aku sangat putus asa saat itu dan menjadi seorang streamer adalah jalan pintas yang ku ambil. Mungkin aku akan merindukan kalian semua. Menjawab semua pertanyaan dan memberi saran meskipun kita tak pernah bertemu sebelumnya. Tapi aku tetap harus menyudahi semuanya. Aku berterimakasih atas semuanya,” Nia kembali melanjutkan ucapanya lalu membuka maskernya dan tersenyum sebelum kembali menutup wajahnya.

Nia mengambil test packnya yang menunjukkan hasil positif. “Aku akan fokus pada suami dan keluarga kecilku. Aku berharap kalian semua akan dapat menemukan pasangan dan hidup bahagia. Dada semuanya!” ucap Nia dengan lebih ceria sambil melambaikan tangannya dan mematikan siaran terakhirnya.

●●●

Icha marah bukan main ketika tau ia tak bisa bercerai dengan Haryo yang lumpuh karena kondisinya yang hamil tua dan ketentuan dari surat perjanjian pra nikahnya yang mengatakan kalau pihak yang menuntut cerai terlebih dahulu tidak akan mendapatkan harta gono gini sepeserpun.

Tak hanya itu saja sebenarnya, tapi juga fakta jika kecelakaan itu terjadi karena Haryo bertengkar dengannya dan lebih memilih pergi dengan selingkuhannya hingga terjadi kecelakaan tersebut. Beruntung hanya Haryo yang terluka parah, sementara selingkuhannya luka ringan begitu pula dengan supirnya sehingga tidak meminta ganti rugi atau menuntut yang lain.

Uang milik Haryo juga mulai menipis, bisnisnya juga perlahan sepi karena orang-orang tau betapa kejamnya haryo pada Nia yang tega memisahkannya dari Ali. Beberapa rekan bisnisnya juga mulai mundur karena hasil sawit dari perkebunan milik Haryo yang kurang bagus dan harga yang tak masuk akal.

Keluarga besar Haryo juga mulai lepas tangan pada nasip Icha dan banyak yang mendesaknya untuk segera cerai saja karena hanya mau menanggung Haryo namun tidak dengan Icha dan bayinya nanti. Tentu saja itu pilihan yang sulit bagi Icha, disisi lain ia ingin segera bercerai dari Haryo. Tapi disisi lain ia akan segera melahirkan.

Baca juga 29. Vol. 3 : Chapter 12

Icha juga tau jika ia tak mungkin melepaskan hak asuh atas anaknya kelak. Selain usianya yang masih sangat kecil, pengadilan jelas tak akan memberikan hak asuh anak pada Haryo yang lumpuh setelah kecelakaan.

Rasa stres dan frustasi Icha itu makin bertambah ketika ia menyadari sudah tak mampu membayar pembantu lagi di rumah. Jadi ia yang harus mengurus semuanya sendiri. Kesalnya lagi selama ia mengurus Haryo, Haryo malah terus mengoceh membandingkan Icha dengan Nia dan melihat kebahagiaan rumah tangga Nia dan Angga yang memulai kehidupan barunya setelah kematian Ali.

Kadang sesekali Icha berharap bila Nia kembali untuk mengemis cinta dari Haryo seperti saat Haryo selingkuh dengannya. Bahkan kadang Icha juga berharap Nia akan datang membawa belanjaannya untuk di berikan pada Ali seperti dulu. Tapi mustahil, Nia jelas tak akan kembali lagi kesana. Apalagi dengan semua kenangan buruk yang sudah ia berikan.

●●●

“Bayinya bergerak!” ucap Angga heboh ketika sedang mengelus perut Nia sebelum ia tidur.

Nia tertawa kecil mendengar suaminya yang begitu heboh merasakan janin di perutnya yang bergerak.

“Ayang! Liat nih tadi Dedeknya nendang!” seru Angga lalu kembali mengelus perut Nia yang mulai membuncit itu.

“Iya…” ucap Nia lembut lalu ikut mengelus perutnya.

Baca juga 28. Vol.3 : Chapter 11

“Oh iya gimana tadi di TK? Seru?” tanya Angga yang selalu senang mendengarkan cerita Nia soal kegiatannya sebagai guru TK.

Nia mengangguk. “Banyak muridku yang penasaran kenapa bisa ada bayi di perutku, beberapa juga tiba-tiba pegang perutku. Tau gak sih tadi ada juga yang tiba-tiba tanya ‘Baby are you a life?’ sambil khawatir gitu dong. Lucu banget, di kiranya aku makan bayi makannya hamil,” ucap Nia lalu tertawa bersama Angga.

“Terus kamu gimana?” tanya Angga lalu duduk untuk memijit kaki Nia yang selalu terasa pegal tiap malam meskipun Nia tak memintanya.

“Aku jelasin kalo Dedeknya gapapa, emang harus didalam perut dulu soalnya masih lemah belum bisa apa-apa harus di lindungin di dalam rahim. Bisa hamil karena udah punya suami, aku jelasin aja pakek bahasa yang mudah di mengerti anak-anak,” jawab Nia sambil memandangi Angga. “Aku bahagia banget nikah sama kamu, bentar lagi punya anak juga,” ucap Nia tiba-tiba mengalihkan topik pembicaraan.

Angga tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan rumah yang di bangunnya dulu sudah siap di huni dan hanya tinggal memberikan sedikit finishing saja pada Nia. “Bulan depan kalo udah kelar semuanya kita pindah kesana, biar deket sama tempat kamu kerja juga,” ucap Angga.

“Aku pengen ngurus anakku aja, mungkin aku bakal cari kerjaan lainnya biar bisa ngurus anak sama kamu juga,” ucap Nia lalu menggenggam tangan Angga.

“Kerja apa emangnya? Kan kamu suka jadi guru TK, kata kepala sekolahmu kamu juga boleh ambil cuti kan?” tanya Angga yang tak ingin menghalangi Nia atas karir maupun hal yang ia sukai.

Nia diam sejenak. “Aku jadi editor buat vlog kita, aku juga pengen bikin vidio memasak sama tips mengurus anak. Menurutmu gimana?” tanya Nia yang di angguki Angga sambil tersenyum.

“Oke kalo gitu kita bakal mulai banyak bikin konten!” seru Angga semangat. “Eh! Dedeknya nendang lagi!” seru Angga yang melihat tendangan kecil di perut istrinya. 

Bab 19 – Hamil-2

Bab 19 – Hamil-3


23
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share