0
Home  ›  Chapter  ›  The Secret Neighbor

Bab 18 – Ali…

 

Bab 18 – Ali…-1

Angga menemani Nia pergi ke rumah mantan suaminya dulu. Nia datang membawa plastik belanjaan besar berisi kebutuhan Ali, mulai popok, susu, cemilan sampai mainan. Namun tak ada orang yang muncul ketika Nia datang.

Sampai hampir 30 menit terus menekan bel dan mengucap salam. Seorang pembantu muncul dan mengatakan kalau Haryo sedang keluar bersama Ali dan Icha untuk memeriksakan kandungan dan imunisasi.

Nia tampak lesu dan sedih tapi ia tetap tersenyum dan membawa plastik belanjaannya yang hendak ia berikan untuk Ali kembali kedalam mobil. Angga ikut tersenyum melihat Nia yang begitu di sia-siakan oleh mantan suaminya sampai harus mengemis seperti ini. Angga benar-benar iba dan sedih melihat Nia yang hanya ingin bertemu dengan anaknya namun terus di persulit seperti ini.

Tapi Angga juga tak bisa berbuat banyak, ingin mengajak Nia pulang dan menjauh dari mantan suaminya yang arogan itu. Tapi disisi lain Angga juga tau jika hanya bertemu dengan anaknya adalah kebahagiaan Nia yang sebenarnya. Angga bahkan masih ingat kemarin saat ia pergi berlibur ke hotel, bukan hotelnya atau momen saat mereka bercinta, tapi malah kabar jika ia bisa sidang untuk merebut hak asuhnya kembali.

“Mau kita tunggu?” tanya Angga sambil menggenggam tangan Nia.

Nia tersenyum lalu mengangguk. Nia membuka bagasi mobil Angga dan membawakan bekal makan siang yang sudah ia buat untuk Angga.

“Makan, udah telat jam makan siangnya. Nanti asam lambungmu naik,” ucap Nia sambil mengambilkan sendok dan mengambilkan minum untuk Angga.

“Kamu yang harusnya makan, bukan aku. Kamu loh habis drop, habis di rawat,” ucap Angga mengingatkan Nia.

Nia hanya tersenyum lalu mengangguk. “Aku mau kesana sebentar lagi, aku mau tanya kapan pulangnya. Habis aku liat Ali aku makan,” ucap Nia lalu kembali menekan bel rumah Haryo lagi.

Baca juga 29. Vol. 3 : Chapter 12

Pembantunya kembali keluar dan hendak mengusir Nia dengan halus lagi. Tapi kali ini Angga ikut mendekat dan menemani di belakang Nia.

“Bu, Bapak bilang Ali gak boleh ketemu sama Ibu. Mbak Icha juga bilang gitu. Ini Bapak lagi keluar, Mbak Icha juga, dari kemarin Ali di bawa Nyonyah. Udah 3 hari ini belom pulang,” ucap pembantu di rumah Haryo yang akhirnya mengaku karena tidak tega dan yakin jika Nia akan menunggu sampai tengah malam sekalipun seperti dulu.

“Mau kesana?” tanya Angga yang melihat Nia tak bisa berkata-kata setelah mendengar informasi dari pembantu itu.

Nia mengangguk. Angga langsung bergegas ke mobil dan menunda makan siangnya di ikuti Nia. Sepanjang mengarahkan jalan ke tempat mantan mertuanya, Nia masih saja memikirkan kesehatan Angga yang menemaninya.

Sepanjang jalan beberapa kali Nia masih menyempatkan diri untuk menyuapi Angga meskipun hanya satu dua suap saja. Nia juga berusaha tenang dan tegar meskipun ia benar-benar ingin menangis karena terus di persulit untuk bertemu anaknya.

“Ini tempatnya, tapi kok rame ya?” ucap Nia heran begitu melihat ada bendera kuning dan kursi-kursi plastik yang di jajar rapi di depan rumah mantan mertuanya.

Perasaan Nia mulai tidak enak, begitu pula dengan Angga. Apalagi keduanya sama-sama menyadari bendera kuning yang terpasang dan warga yang datang dengan pakaian serba hitam.

Nia begitu takut entah siapapun yang mati atau kejadian buruk lainnya, tapi yang jelas Nia takut jika firasatnya benar. Nia takut jika ia tak bisa bertemu lagi dengan Ali. Nia langsung berlari menerobos kerumunan dengan nekat. Ia tak malu jika ia akan di usir atau di permalukan seperti biasanya oleh keluarga mantan suaminya itu. Nia hanya ingin memastikan jika ada Ali di sana.

Angga juga ikut mengejar Nia masuk. Sampai ia terhenti ketika Nia ambruk bersimpuh melihat seorang balita yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Ali, balita itu Ali. Nia langsung mendekat dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat Ali.

Baca juga 28. Vol.3 : Chapter 11

Haryo dan Icha tak terlihat disana. Hanya ada Ala, ibu mertuanya, dan beberapa kerabat yang lain. Semua mata memandang Nia, beberapa menatap Nia dengan penuh kebencian, sebagian yang lain memandang Nia dengan iba.

“Ali! Anak Momy, Ali bangun Nak! Ini Momy, Momy sama Ali sekarang, Momy peluk Ali!” jerit Nia begitu histeris sambil memeluk erat-erat tubuh dingin putranya itu.

Mantan mertua dan iparnya tak berani mendekati Nia. Terlebih karena ada RT dan RW yang tau betul bagaimana Nia yang selalu berusaha bertemu dengan anaknya dari dulu. Nia menangis sangat lama sambil terus memeluk dan menciumi Ali yang sudah tak bernyawa.

Angga benar-benar tak menyangka jika apa yang sudah Nia perjuangkan selama ini berbuah pahit. Angga dan Nia bahkan akan mengajukan sidang kembali namun sekarang semuanya sia-sia. Angga tak bisa membantu apapun bahkan sampai detik terakhir Ali hidup.

“Ali jangan tinggalin Momy, anak baik, anak soleh, jangan tinggalin Momy!” jerit Nia begitu histeris sambil terus berusaha membangunkan putranya.

Semua orang berbisik-bisik soal Nia dan keluarga Haryo yang jadi terlihat berantakan dan penuh masalah. Bahkan hingga malam Haryo masih juga belum datang, tak hanya Haryo tapi Icha juga tidak kunjung datang.

Malam ini Nia di ijinkan untuk tetap bersama dengan anaknya. Tanpa di usir dan di siram atau di pukuli sembari menunggu kedatangan Haryo sebagai ayah dari Ali. Namun hingga hampir subuh Haryo masih belum datang sampai tiba-tiba ada pihak kepolisian yang mengabari kalau Haryo mengalami kecelakaan.

Ala sebagai ibu dari Haryo kaget bukan main mendengar kabar tersebut. Hampir semua anggota keluarganya langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Haryo. Tapi tepat saat semua pergi Icha tiba-tiba datang ke rumah duka.

“Kenapa Ali bisa mati? Kamu apain Ali?!” bentak Angga yang langsung menyudutkan Icha yang baru datang.

“Aku tidak tau! Udah dua minggu aku pisah ranjang sama tua bangka itu! Dia sendiri yang tiba-tiba bawa Ali kesini! Aku juga baru tau kalo Ali mati!” saut Icha membela diri.

Angga menyingkir dari hadapan Icha yang langsung masuk untuk melihat kondisi Ali. Tapi tak lama Icha bingung kenapa ia tak menemukan mertuanya atau iparnya yang lain sampai salah satu istri dari iparnya memberi tau jika semua keluarga pergi ke rumah sakit karena Haryo kecelakaan.

Icha yang semula hendak mengurusi pemakaman langsung pergi ke rumah sakit juga dengan panik dan khawatir pada suaminya. 

Bab 18 – Ali…-2

Bab 18 – Ali…-3


23
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share