Bab 05 – Kencan
Sejak
obrolannya dengan Angga saat makan siang bersama, Nia menjadi sedikit banyak
mengenal Angga dengan baik. Meskipun Nia dan Angga tak sempat bertukar kontak
masing-masing. Sejak itu juga rasanya Nia dan Angga jadi jarang bertemu, tidak
seperti biasanya.
Nia merasa
sedih dan senang setelah sekian lama akhirnya bisa sedikit menceritakan soal
kehidupannya pada orang lain. Sudah lama sekali Nia tak mengobrol apa lagi
curhat. Nia senang bisa mengobrol dengan Angga waktu itu tapi ia juga sedih
karena merasa mengorek lukanya kembali. Nia juga takut jika ceritanya akan
membebani Angga atau ia terlalu banyak bicara hingga Angga tidak nyaman.
Nia juga
merasa caranya meninggalkan Angga saat makan siang kemarin tidak sopan, tapi
Nia juga tidak berani datang menemui Angga yang hanya berjarak 2 pintu dari
tempatnya tinggal. Rasanya Angga pun begitu. Angga juga tak berani mendatangi
Nia karena takut Nia tersinggung atau tidak nyaman bersamanya kemarin.
Angga juga
merutuki pertanyaannya yang kepo pada Nia kemarin padahal daripada membuat
hubungannya menjadi renggang begini Angga bisa saja kemarin minta kontaknya
saja dan tanya lewat chat.
“Nia!” sapa
Angga yang kebetulan melihat Nia yang membawa plastik sampah hendak membuangnya
ke bawah.
“Hai!” sapa
Nia sambil tersenyum.
Angga
menghela nafas lega karena Nia tidak marah, Nia juga menghela nafas lega karena
Angga tidak ilfil mendengar ceritanya.
“Biar ku
bantu,” ucap Angga mendekat pada Nia dan langsung membantunya membuang sampah.
“Terimakasih,
maaf merepotkan terus,” ucap Nia sungkan sambil berjalan bersama Angga.
Keduanya
diam bingung memulai pembicaraan darimana. Keduanya bergelut dengan pikiran
masing-masing dan memperdebatkan apapun topik yang ingin di bahas dalam otak.
“Em…Nia…m-maaf
soal yang kemarin, seharusnya aku tidak kepo dan menanyakan masalah pribadimu.
Maaf membuatmu tidak nyaman,” ucap Angga membuka pembicaraan.
Nia menatap
Angga dengan terkejut, lalu tersenyum bersamaan dengan senyum yang merekah di
bibir Angga. “Tidak, aku tidak marah. Aku juga minta maaf karena meninggalkanmu
begitu saja. Aku takut membuatmu tidak nyaman mendengar ceritaku, aku takut
terlalu banyak bicara,” ucap Nia lalu menundukkan pandangannya.
Angga
tertawa mendengar ucapan Nia, tak lama Nia ikut tertawa karena ia dan Angga
sama-sama salah paham ternyata.
“Apa yang
akan kamu lakukan setelah ini?” tanya Angga pada Nia sambil berjalan ke bak
sampah.
“Em… tidak
ada, mungkin aku akan membuat kopi sambil membaca,” jawab Nia.
Angga
langsung mengambil ponselnya dan menunjukkan brosur kafe yang ia foto dari
salah satu nasabahnya yang mengajukan pinjaman di bank. “Mau pergi ke kafe?
Nasabahku baru membuka kafe, a-aku ingin mengeceknya. Maksudku kalau kamu gak
sibuk mau kesana? T-tapi ini bukan kencan, maksudku aku…em…aku…”
“Oke aku
akan bersiap-siap!” potong Nia karena melihat Angga yang begitu gugup
mengajaknya pergi ke kafe.
“Iya, a-aku
akan menunggumu,” ucap Angga sambil tersipu malu dan memalingkan wajahnya.
Nia
langsung masuk ke apartemennya sementara Angga masih berjingkrak-jingkrak
begitu senang bisa mengajak Nia pergi. Kebahagiaan Angga rasanya juga masih
berlanjut dengan bersorak bergembira. Antara gugup, senang, dan semangat
bercampur aduk di hati Angga.
Persetan
dengan status Nia sebagai janda atau streamer apapun itu Angga tetap
senang bisa mengenal Nia.
Nia bersiap-siap dengan perasaan senang dan berbunga-bunga. Sudah lama ia tak mengobrol sekarang ia memiliki teman mengobrol dan sudah lama ia tak pergi bersenang-senang, sekarang ada Angga yang mengajaknya pergi.
Tapi senyum
sumringah Nia perlahan luntur ketika tiba-tiba ada notifikasi masuk ke emailnya
dari aplikasi streamingnya. Nia menatap tubuhnya lalu menatap kamar dan
segala atributnya untuk melakukan siaran.
Nia langsung malu dan merasa tak pantas untuk Angga.
Angga
terlihat polos dan tulus saat bersamanya. Angga juga pria baik-baik dan bekerja
keras di bidangnya. Nia yang sempat merasa senang dan berbunga-bunga sebelumnya
menjadi sedih dan malu. Nia takut jika Angga akan jijik begitu tau pekerjaan
rahasianya selama ini. Nia takut jika Angga akan pergi atau melaporkannya pada
pihak kepolisian dengan dugaan konten pornografi.
Suara bel
pintu apartemennya berbunyi. Nia mengatur nafasnya agar ia merasa lebih tenang
lalu berjalan keluar menemui orang yang menekan bel di pintunya.
Angga
tersenyum sambil menunjukkan sepatu kerjanya yang lama. Nia mengerutkan
keningnya bingung.
“Kamu
tinggal sendirian kan?” tanya Angga yang di angguki Nia. Angga langsung
meletakkan sepatunya di dekat rak sepatu Nia. “Biar kamu gak di kira tinggal
sendirian,” ucap Angga lalu meletakkan asbak berisi puntung rokok juga di
samping rak sepatu Nia.
Nia
tersenyum lalu mengangguk. “Terimakasih,” ucap Nia lalu keluar dan mengunci
pintu apartemennya.
Sejenak Nia
melupakan soal kekhawatirannya pada Angga. Nia menikmati waktunya bersama Angga
yang begitu baik dan perhatian padanya. Sudah lama sekali Nia tak merasakan
kehangatan saat bersama pria. Kehadiran Angga terasa seperti oasis di tengah
gurun.
Nia kembali
mengobrol ringan dengan Angga. Menikmati late dan donat bersama, lalu pergi
makan siang di food court salah satu pusat perbelanjaan dan mampir ke
tempat aksesoris.
“Aku selalu
kesini, membeli mainan untuk anakku barang kali aku akan kembali mendapat hak
asuhnya kembali,” ucap Nia sambil membeli boneka sapi.
Angga
langsung teringat pada Momy Cow begitu Nia membayar bonekanya. “S-sapi…” ucap
Angga ragu.
“Anakku
selalu tenang jika memegang boneka sapi, sepertinya dia suka sapi,” ucap Nia
sambil memandang bonekanya dengan begitu tulus.
Angga
langsung paham kenapa Nia menggunakan nama samaran Momy Cow meskipun ia masih
ragu apakah Nia 100% Momy Cownya.
Angga iseng
mengambil gelang couple berwarna hitam dan putih, yang berbentuk seperti jam
namun talinya cukup kecil yang terbuat dari kulit sintetis. Angga begitu
tertarik bukan karena motif atau warnanya, tapi karena gelang itu bisa
menunjukkan kalau pasangannya kangen hanya dengan menekan jamnya.
“Buat kamu,
k-kalau ada sesuatu bisa beritahu aku. K-katanya ini bisa memberitau kalau
pasangan saling merindukan satu sama lain, t-tapi k-kamu bisa tekan kalau kamu
butuh bantuan. S-seperti tombol pemanggil suster di rumah sakit,” ucap Angga
gugup memberikan pada Nia.
Nia
tersenyum lalu memakainya. “Terimakasih,” ucap Nia.
Angga ikut memakainya juga. Angga memberi gelang kali ini bukan hanya agar Nia mudah memanggilnya tapi juga agar ia bisa yakin jika Nia adalah Momy Cow.