Bab 17 – Hak Asuh Anak
Dua minggu
berselang. Nia kembali menghadiri sidang perebutan hak asuhnya. Kali ini ia di
temani Angga dan Amel juga. Luka di kepalanya masih nampak. Kuasa hukum Nia
juga berusaha menguatkan tuntutan Nia dengan mengatakan jika Haryo melakukan
KDRT.
Bukti
visum, CCTV, sampai saksi semua lengkap. Namun seolah keadilan selalu tak
berpihak padanya. Tuntutan Nia di tolak dan persidangannya di putus dengan
Haryo sebagai pemegang hak asuh atas Ali.
Nia tak
lagi menangis melainkan langsung pingsan begitu hakim memutuskan perkara. Nia
begitu syok setelah semua yang ia alami dan ia masih tak bisa bersama dengan
putranya. Icha mencoba memanfaatkan suasana dan berusaha mencari simpati Angga
dengan membantu Nia yang pingsan. Namun Amel lebih sigap untuk membantu adik
iparnya itu.
Orang-orang
yang datang ke pengadilan menatap dengan pandangan iba pada Nia. Orang-orang
tau jika Nia mendapat ketidak adilan, namun tak ada yang bisa membantunya.
Bahkan kuasa hukumnya pun juga tak bisa banyak membantu. Apa lagi yang dilawan
adalah orang yang berani mengeluarkan uang untuk menyogok hakim seperti Haryo.
Kondisi Nia
langsung drop dua hari setelah persidangan. Nia langsung di rawat intensif di
rumah sakit, Angga yang harus bekerja bergantian dengan kakaknya untuk menjaga
Nia. Kadang keluarga Nia ada yang datang, kadang juga kepala sekolah tempatnya
mengajar datang untuk menemani Nia yang dirawat di rumah sakit.
Tapi
meskipun Nia tak mendapatkan hak asuhnya dan bahkan keadilan tak berpihak
padanya sedikitpun. Nia tetap bersyukur, setidaknya ia melewati semuanya tidak
sendirian. Ada suami dan ipar yang menyayanginya, ada orang-orang baik seperti
kepala sekolah dan murid-murid di TK tempatnya mengajar yang pengertian, juga
kuasa hukum yang menemaninya bertarung di persidangan.
Nia tidak
sendirian seperti dulu, Nia tidak harus pontang-panting tanpa kepastian dalam
keputus asaan. Nia menemukan kebahagiaannya bersama keluarga yang baru ia bina.
Meskipun ia tak bisa bersama dengan Ali.
“Aku pengen
ketemu sama gendong Ali sebentar saja, sekali ini saja…” ucap Nia pada Angga
yang menemaninya selama seminggu di rumah sakit.
Angga
tersenyum lalu mengangguk. “Kalo kamu udah sehat, kita datengin rumah mantan
suamimu ya. Nanti biar aku minta ijin biar kamu di bolehin ketemu Ali ya,” ucap
Angga lembut menyemangati Nia.
Nia
mengangguk sambil tersenyum. “Makasih udah mau ku repotin,” ucap Nia sambil
menggenggam tangan Angga.
“Ck! Kamu
ini ngomong apa, aku kan suamimu. Kalo kamu ada masalah jelas itu jadi tanggung
jawabku juga. Gak usah sungkan kayak gitu,” ucap Angga lalu mengecup kening Nia
dengan lembut.
●●●
Haryo mulai sering
telat pulang kerumah sejak Icha mulai menolak untuk berhubungan intim
dengannya. Haryo yang semula senang karena Icha hamil perlahan jadi jijik dan
bosan melihat wanita muda itu bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah. Belum
lagi permintaan ngidamnya yang aneh-aneh.
Haryo di buat jengah
karenanya. Tak cukup sampai di situ, Ali juga begitu rewel belakangan ini.
Alih-alih menegur atau mengambil alih peran pengasuh Ali. Haryo malah
menyarankan memberikan obat tidur untuk anaknya yang belum genap dua tahun itu
tiap kali masih rewel di jam tidurnya.
Icha mulai sering di tinggal Haryo sendirian
di rumah, perhatiannya juga menurun drastis. Apalagi Icha jadi jarang bersolek
sejak hamil. Mertuanya masih tetap baik pada awalnya, tapi begitu Icha sering
mengeluh soal Haryo hubungannya jadi merenggang. Bahkan mertuanya juga jadi
lebih cerewet dan cenderung memarahinya.
“Mas, kamu kenapa sih
sekarang pulangnya telat mulu? Aku kan lagi hamil anak kamu, aku butuh
perhatian juga. Jangan kerja mulu dong,” keluh Icha yang mendatangi Haryo yang
sedang asik dengan ponselnya di ruang kerjanya.
Haryo mendengus pelan
lalu menutup ponselnya dan buru-buru memasukkannya kelaci. “Ya aku kan kerja
buat kamu juga, buat Ali, buat anak kita nanti juga. Kamu harusnya bisa
mengerti dong Dek. Kita udah bicarain ini hampir tiap malam,” ucap Haryo lalu
menggiring Icha keluar dari ruang kerjanya.
Icha cukup kesal
karena Haryo terus beralasan, padahal sudah jelas ia mendengar Haryo sedang
mengobrol santai dan sempat tertawa dengan ceria saat sendirian dengan
ponselnya tadi. Sementara sekarang saat bersamanya Haryo terlihat begitu jutek
dan ketus padanya.
“Kamu ini apa gak bisa
merawat diri? Badanmu gendut banget, kulitmu kusem,” komentar Haryo begitu
sampai di kamar bersiap tidur bersama Icha.
Icha kaget mendengar komentar Haryo, sudah
jelas ia sedang hamil. Tentu saja badannya akan jadi lebih gemuk, kulitnya pun
jadi tampak kusam karena hormonnya di tambah ia yang tak punya waktu untuk
merawat diri.
“Mas! Aku jadi kayak
gini karena hamil! Hamil anakmu! Aku juga gak mau jadi gemuk! Kulitnya kusem!
Ga perawatan kayak gini! Ini kali pertama aku hamil Mas! Harusnya kamu suport
aku, bukan malah ngejek fisikku kayak gitu dong!” bentak Icha dengan emosi pada
Haryo.
Haryo langsung bangun
dan menampar pipi Icha dengan cukup keras. “Berani ya kamu sekarang! Udah
ngelunjak ke suami sekarang?! Kamu kira kamu siapa bentak-bentak aku kayak
gitu?! Wanita murahan!!!” maki Haryo lalu meninggalkan Icha sendirian di kamar.
Icha sempat mengejar
Haryo keluar, namun Haryo masuk ke ruangannya dan membanting pintu tepat di
depan Icha lalu menguncinya dari dalam. Mengabaikan Icha yang terus
menggedor-gedor pintunya.
“Mas! Buka pintunya!” jerit Icha yang jadi membangunkan Ali yang sudah terlelap.