Bab 04 – Makan Siang
Angga yang
semula ingin menyudutkan Nia mengurungkan niatnya. Wanita itu hanya seorang ibu
yang mengusahakan segala macam cara demi bisa mendapatkan bayinya kembali.
Angga yang ingin membongkar rahasia Nia seketika merasa bersalah.
Tak
selayaknya Angga berpikir untuk menyudutkan Nia, apalagi sampai menghakimi dan
membongkar perbuatannya. Sebagai fans berat Momy Cow dan pria gentlemen Angga
merasa malu dengan pikiran dan niat buruknya pada Nia. Bila Nia buruk dan penuh
dosa karena menjual diri di platform dewasa, maka akan di sebut apa dirinya
padahal Angga juga salah satu pelanggannya.
Angga
begitu malu pada dirinya sendiri. Bahkan bila sebelumnya Angga begitu kepo dan
memata-matai Nia untuk membongkar siapa Nia sebenarnya. Sekarang Angga berubah
dengan menjauhi Nia dan berpura-pura tidak mengenalnya seperti sebelumnya.
Tentu saja
apa yang di lakukan Angga tidak membuat Nia curiga. Nia tetap dengan
kegiatannya sebagai guru TK di pagi hari dan menjadi seorang streamer sexy
di malam hari. Angga juga tetap menonton live streaming Nia seperti
biasa.
Meskipun
kali ini Angga tidak seperti dulu lagi, Angga tidak hanya fokus pada tubuh Nia
dan desahannya saja tapi juga pada komentar-komentar yang ada di sana.
“Apa?
Memakai bajuku?” tanya Nia kaget karena di sela-sela orang yang memintanya
untuk tampil lebih sexy dan lebih binal ada sebuah user yang memintanya memakai
pakaiannya kembali.
Tak lama
Sumer69 mengirimkan tips pada Nia yang jelas Nia turuti permintaannya.
“Berhenti live?”
tanya Nia lebih kaget lagi karena user Sumer69 itu mengiriminya tips sebesar 2
juta untuk menghentikan acaranya.
Tapi tak
selang lama user-user lain yang tak setuju mengirimkan tips lebih besar agar
Nia melanjutkan acaranya. User-user lain yang meminta Nia melanjutkan livenya
juga memberikan tips yang lebih besar dari yang Sumer69 berikan pada Nia.
Sehingga mau tidak mau Nia menuruti permintaan tersebut dan tetap melanjutkan
acaranya.
Angga
begitu kesal karena gagal melindungi Nia dari orang-orang yang mesum dan
melecehkannya di internet tersebut. Meskipun sebelumnya Angga juga bagian dari
orang-orang tersebut.
Pagi terasa
berbeda, Angga tak merasa rileks dan bahagia setelah menonton Momy Cow yang
biasanya sukses menjadi penawar lelah dan penghibur hatinya. Angga melihat Nia
yang berangkat ke TK dengan banyak barang bawaan dan bahan kerajinan tangan.
Seperti
biasanya Angga langsung menawarkan diri untuk membantu membawakan barang-barang
bawaan Nia. Nia tersenyum lembut menerima bantuan Angga. Bagi Nia, Angga adalah
tetangga yang baik dan ramah.
Angga juga
tampan dan memiliki tubuh yang bagus, membuat Nia cukup senang dan tak masalah
jika apa yang di lakukan Angga adalah modus padanya. Tapi saat ia hendak masuk
kedalam mobil dan melihat pantulan wajahnya Nia merasa malu dan minder.
Ia seorang
ibu dan janda yang di buang suaminya dan dipisahkan dari anaknya. Mana mungkin
ia menarik bagi Angga yang terlihat masih lajang itu? Pria tampan seperti Angga
yang bekerja di bank tentu memiliki banyak pilihan pasangan mungkin juga Nia
bukan satu-satunya wanita yang ia temui, Nia juga yakin pasti ia bukan
satu-satunya wanita yang menerima keramahan dan kebaikan Angga yang mudah
membantu itu.
Nia tertawa
kecil, menertawakan perasaannya sendiri. Lalu melanjutkan kegiatannya sebagai
guru TK yang ceria dan keibuan, bermain dengan anak-anak dan mengajari mereka
keahlian-keahlian dasar.
Usai
mengajar dan menemani murid terakhirnya pulang, hari ini Nia berencana untuk
mencetak pembukuan rekeningnya. Jadi siang ini sebelum jam makan siang Nia
datang ke bank tempat Angga bekerja.
Angga kaget
melihat Nia yang tiba-tiba datang Angga sudah mulai berpikiran buruk bila Nia
menyadari usernya dan akan melabraknya di tempat bekerja. Tapi Nia malah
tersenyum ramah dan menghampirinya.
“Hai, aku
mau mencetak pembukuan rekeningku,” ucap Nia ramah.
“Ah…” desah
Angga lega. “Oke tunggu sebentar biar ku bantu,” ucap Angga langsung kembali ke
mejanya dan melayani kebutuhan perbankannya.
Angga
sedikit terkejut melihat tak ada transaksi aneh di rekening Nia, hanya kiriman
gaji dari TKnya dan beberapa kali transaksi pengambilan uang atau pemotongan
biaya asuransi BPJS. Angga jadi sedikit ragu dengan Nia apakah ia benar-benar
Momy Cow atau hanya kebetulan saja?
“Mau makan
siang bareng?” tawar Angga tiba-tiba.
Nia
tersenyum lalu mengangguk pelan. “Boleh kalau tidak merepotkan,” jawab Nia
sopan.
Angga
tersenyum sumringah lalu mengangguk. Angga mengajak Nia makan siang di warung
makan padang dekat kantor bank tempatnya bekerja karena waktu makan siangnya
yang tidak lama. Angga mengobrol ringan dengan Nia seperti pekerjaan dan
pelan-pelan Angga menanyakan rasa penasarannya soal Nia.
“Ehm…aku
janda, aku cerai 6 bulan lalu. Orang tuaku sudah lama meninggal, lalu
kakak-kakakku memberikanku warisan uang. Aku bingung harus apa, jadi aku
membeli apartemenku saat ini. Ku kira waktu itu jika aku punya tempat tinggal
yang layak pengadilan akan membiarkanku membesarkan putraku, ternyata tidak.
Uangku terus menipis karena harus membayar pengacara dan sidang,” Nia menghela
nafasnya lalu tersenyum. “Aku bekerja di TK karena aku merindukan anakku, aku
suka anak-anak. Aku melakukan apa saja untuk anakku,” sambung Nia lalu kembali
tersenyum.
Angga
tertunduk ikut sedih mendengar kehidupan Nia yang keras, tangan Angga mulai
terulur untuk menggenggam tangan Nia.
Nia
langsung menarik tangannya begitu tangan besar Angga yang hangat menyentuhnya.
Airmata yang Nia bendung mulai jatuh perlahan.
“Maaf, aku terlalu banyak bicara,” ucap Nia lalu bangun dan membayar makanannya sebelum pergi meninggalkan Angga duluan.