Bab 01 - Paket Nyasar
“Bunda Nia,
ini dapet oleh-oleh dari mamanya Boni,” ucap salah satu murid di TK tempat Nia
bekerja tiap pagi hingga sore hari.
“Ow! Apa
ini?” sambut Nia menerima pemberian Boni dengan antusias.
Murid-muridnya
mulai berdatangan mengerubungi meja guru yang Nia duduki sembari menemani
anak-anak muridnya memakan bekal.
“Kita buka
sama-sama ya,” ucap Nia karena muridnya yang lain ikut antusias melihat
oleh-oleh pemberian orangtua Boni. “Wah cantik sekali!” ucap Nia sambil
menunjukkan jepit rambut dan permen susu yang di berikan Boni.
“Ini aku
yang pilih buat Bunda,” ucap Boni menunjukkan jepitan rambutnya yang khusus ia
pilihkan untuk Nia.
Nia
tersenyum lalu langsung memasangnya di rambutnya. “Bagus tidak?” tanya Nia yang
langsung mendapat pujian tidak hanya dari Boni tapi juga murid-muridnya yang
lain.
“Bunda coba
ini juga!” seru Boni begitu antusias meminta Nia mencoba permen susu yang ia
berikan untuknya.
“Oke!”
jawab Nia lalu menuruti permintaan Boni. “Emmm!!! Enak sekali!!!” seru Nia
begitu mencicipi permen pemberian Boni.
“Bunda aku
pengen coba!” seru seorang murid yang tiba-tiba ingin permen yang di berikan
Boni untuknya.
“Boleh,
ini…” ucap Nia lalu membagi permennya pada semua muridnya termasuk Boni.
Hari-hari
menyenangkan bagi Nia setiap hari, bercengkrama dengan muridnya sepanjang pagi
hingga sore. Meskipun kadang Nia harus bekerja sedikit lebih ekstra seperti
mengganti celana muridnya yang mengompol, menyuapi, menemani ke kamar mandi
atau menemani muridnya hingga di jemput
orang tuanya hingga senja.
Nia
menikmati kehidupannya bersama anak-anak. Nia merasa senang di panggil bunda,
Nia senang berperan menjadi ibu dan guru. Terlebih saat ia harus kehilangan hak
asuh atas putra kecilnya yang masih bayi. Setelah perceraiannya yang begitu
menyakitkan melawan suaminya yang begitu arogan dan keras kepala.
“Da… besok
sekolah lagi ya!” ucap Nia dengan ceria menemani muridnya yang pulang paling
akhir sambil melambaikan tangannya.
“Bunda Nia
selalu jadi favoritnya anak-anak ya,” ucap kepala sekolah yang melihat Nia baru
selesai menemani murid terakhirnya.
Nia
tersenyum sumringah mendengarnya. “Aku hanya menyukai anak-anak,” jawab Nia
sebelum ia pulang.
●●●
Suara
ketukan pintu terdengar begitu mengganggu bagi Angga yang baru duduk di depan
laptopnya bersiap menonton acara live streaming dari Momy Cow. Angga
langsung membuka pintu apartemennya dan melihat kurir yang mengantar paketnya.
Sebuah box besar berisi sex toy untuk memudahkannya ketika menonton
acara streaming kesukaannya.
“Kayaknya
aku cuma pesen satu deh,” gumam Angga heran ketika melihat ada dua paket yang
di berikan padanya.
Tapi baru
Angga ingin mengkonfirmasi pada kurir yang mengantarkan paketnya, kurir itu
sudah pergi.
“205,
huft…” Angga menghela nafas sedikit kesal karena ia jadi harus ketinggalan
menonton live streaming yang sudah ia nantikan.
Angga
berjalan ke pintu apartemen 205 dan langsung menekan bel apartemennya. Cukup
lama Angga menunggu dan sudah tiga kali ia menekan bel apartemen itu sebelum
akhirnya seorang ibu muda yang tingga di dalamnya keluar.
“I-iya?”
ucap Nia setelah membuka pintu apartemennya.
“Ini
paketmu nyasar,” ucap Angga yang tinggal di apartemen nomor 202.
“Ow,
terimakasih,” ucap Nia sambil menerima paketnya dari Angga lalu membungkukkan
badannya sedikit sebelum masuk ke apartemennya lagi tanpa sempat berbasa-basi.
Angga
tersenyum dan langsung kembali ke apartemennya. Angga sedikit terpesona pada
Nia yang terlihat begitu lembut, wajahnya yang terlihat cantik, kulitnya yang
putih dan bibirnya yang kemerahan dengan rambut yang di gerai.
Angga tidak
ingat bila ia memiliki tetangga secantik Nia sebelumnya, atau karena memang
karena Angga yang selalu sibuk dan jarang bersosialisasi jadi ia tidak
mengetahui siapa tetangga kanan dan kirinya. Tapi yang manapun itu fokus Angga
tetap pada streamer sexy Momy Cow.
“Lihat!
Paketku sudah datang, tadi paketnya sempat nyasar di tetangga sebelah. Tapi
sekarang sudah datang. Kita lihat ada apa saja di dalamnya,” ucap Momy Cow
dengan ceria seperti biasa seolah sedang bicara empat mata dengan semua
penontonnya yang ada di rumah.
Angga
langsung membelalakkan matanya begitu melihat paket yang di pegang Momy Cow,
sama seperti paket yang nyasar ke apartemennya tadi.
“Ada
beberapa mesin pumping yang baru, ada ini juga dan ini…” Momy Cow mulai
menunjukkan mesin pumping barunya dan beberapa dildo yang baru ia beli.
“Aku tau mungkin ini akan membosankan, tapi hari ini aku hanya akan memamerkan
belanjaanku ini saja. Aku kurang enak badan, maaf tidak bisa menemani kalian
semua malam ini,” ucap Momy Cow yang terdengar lembut dan sedih sebelum
akhirnya mengakhiri live streamingnya dengan begitu cepat bahkan sebelum
ada banyak orang mengiriminya hadiah.
Angga mulai
berusaha mengingat suara tetangganya begitu ia selesai melihat live
streaming barusan. Angga berusaha keras mengingat wajah tetangganya itu,
sambil terus mencari kesamaan dengan Momy Cow.
“Tidak
mungkin dia,” gumam Angga tak percaya.
Nia
tetangganya yang baru ia temui saat mengantar paket yang nyasar itu terlihat
begitu lembut, wajahnya juga terlihat kalem dan sangat keibuan. Caranya bicara
tadi juga, sangat berbeda dengan Momy Cow yang binal itu.
Tapi
kalaupun memang tetangganya itu adalah Momy Cow yang selama ini ia sawer, Angga
juga tak bisa berbuat apa-apa. Angga tak tau bagaimana kehidupan tetangganya
itu, Angga juga tak berhak melakukan apapun pada perempuan yang tinggal
sendirian di apartemennya. Angga memang mesum, tapi ia tak mau memperkosa
wanita yang berpotensi menghancurkan karirnya sebagai pegawai bank yang baru
akan di promosikan.
●●●
Nia terus
mencoba menghubungi mantan suaminya hampir setiap malam. Ia juga terus
menghubungi mantan mertuanya juga iparnya yang lain berharap akan segera
mendapat kabar soal bayi kecilnya. Nia begitu ingin bisa kembali mendekap buah
hatinya itu kembali. Tak masalah bagi Nia jika mantan suaminya hanya akan
mengijinkannya bertemu satu kali dalam seminggu, atau beberapa jam saja.
Nia hanya
ingin mendekap bayinya dan memberikan seluruh asinya selayaknya ibu pada
umumnya. Tapi sekeras apapun usahanya sepertinya selalu nihil. Nia tetap tak
pernah bisa bertemu dengan bayinya, pihak keluarga mantan suaminya juga ikut
menghalang-halanginya.
“Halo anak
Momy, Ali lagi apa? Momy kangen sekali sama Ali, Ali sehat kan Nak? Ali sabar
ya, Momy lagi kerja. Nanti kalo uang Momy udah banyak Momy cari Ali, kita
ketemu lagi ya sayang. Momy selalu mencintai Ali dimanapun Ali berada, Momy
selalu mikirin Ali. Tapi gak papa, meskipun kita berpisah sebentar Momy selalu
doakan jagoan kesayangan Momy setiap hari,” ucap Nia dalam voice note
yang hampir tiap hari ia kirimkan ke nomor mantan suaminya seolah sedang bicara
dengan anaknya.
Tanpa peduli meskipun tak di balas bahkan tak di baca. Nia terus berusaha menghubunginya, bahkan kalaupun Nia di blokir oleh mantan suaminya, Nia tetap rutin menghubunginya setiap hari tanpa lelah.