Bab 02 – Belanjaan
Nia
berusaha menghibur dirinya semalaman. Sambil melihat foto dan vidio putranya
yang masih ia miliki. Nia terakhir kali dapat mendekap putranya saat masih
berusia 3 bulan, dan sekarang putranya sudah berusia 9 bulan. Namun selama
itupula Nia tak pernah bertemu dengan jagoan kecilnya lagi.
Nia
memejamkan matanya. Nia ingat dengan jelas saat suaminya marah besar saat Nia
melabrak selingkuhannya. Seorang selebriti internet yang baru naik daun. Nia
ingat suaminya begitu marah sampai langsung menjatuhinya talak dan membawa
putranya kabur begitu saja.
“Kamu ini
jelek! Udah kisut! Kayak pembantu! Liat badanmu, pria mana yang bisa napsu liat
badan kayak gitu?!!” maki mantan suaminya sebelum mentalaknya yang begitu Nia
ingat.
Nia tak
tinggal diam tentu saja, ia mencoba untuk membela dirinya dan mencari bantuan
ke keluarga mantan suaminya saat itu. Tapi ternyata ia juga mendapat makian
serupa.
Nia
tersenyum getir di tengah tangisnya. Kadang ia malu dengan pekerjaan rahasianya
sebagai seorang streamer, memamerkan tubuhnya dan bertingkah binal di
depan kamera dengan banyak orang yang menyawernya secara online.
Tapi disisi
lain dari hatinya, Nia merasa lega dan senang bisa melakukannya. Nia senang
ketika banyak orang memujinya bahkan sampai ia memiliki banyak penggemar dan
pengunjung yang begitu royal padanya.
Nia senang
bisa mematahkan ucapan mantan suaminya yang menghina tubuhnya. Tubuh gadis yang
langsing terawat, tubuh seorang gadis yang rela menjadi ibu dengan segala
konsekuensi yang hanya ia sendiri yang menanggungnya. Itupun ia tetap di maki
dan dipersulit untuk menemui darah dagingnya sendiri.
●●●
Angga
mengerutkan keningnya begitu bertanya-tanya dan menaruh banyak curiga pada
tetangga apartemennya yang tinggal di kamar 205 itu. Ia sangat ragu dan tak
menyangka apalagi menaruh curiga pada awalnya. Wanita itu terlihat sangat
keibuan, pakaiannya juga sangat tertutup.
Sesekali
Angga melihat penghuni kamar tersebut membawa sampah origami dan pita
warna-warni. Angga juga pernah sekali melihatnya saat berpapasan di lift
pagi ini. Tapi tetangganya itu sangat berbeda dengan Momy Cow.
Pakaiannya
rapi dan sopan, rambutnya juga di ikat rapi, penampilannya sangat jauh dari
kata sexy. Kalau saja bukan karena paket nyasar itu. Mungkin Angga akan lebih
tenang sekarang.
“Belakangan
ini banyak ya orang-orang yang ngajuin kreditan,” ucap teman kerja Angga.
Angga kaget
dan langsung tersadar dari lamunannya. “Ehm…iya…” jawab Angga sekenanya.
“Kamu
kenapa sih? Belakangan ini ngelamun mulu,” ucap teman kerja Angga kepo.
Angga
tersenyum sambil menggeleng dan memilih kembali fokus dengan berkas-berkas di
tangannya.
Angga
benar-benar berharap sekarang untuk bisa segera pulang dan memulai chatting atau
menonton streaming Momy Cow untuk memastikan apa yang ada di pikirannya
selama ini.
“Ngga kalo
ada masalah kamu boleh cerita, kapan aja pasti ku dengerin,” ucap teman kerja
Angga lagi karena Angga kembali melamun dengan alis bertaut.
Angga
kembali menggeleng dan memilih fokus saja pada pekerjaannya kembali. Meskipun
rasanya begitu sulit karena Angga terus membayangkan wajah tetangganya ada pada
wajah Momy Cow yang biasa ia tonton.
Angga terus
memikirkannya, tapi menanyakan langsung pada tetangganya itu juga terasa aneh
dan canggung. Angga bisa dikira aneh, atau di laporkan karena di kira penjahat
kelamin. Tapi yang manapun itu Angga tetap tidak menginginkannya. Angga hanya
ingin menjadi orang normal dan tetangga yang tenang saja.
●●●
Nia membeli
beberapa kebutuhan anaknya di swalayan yang dekat dengan apartemennya. Nia
berencana besok datang ke rumah mantan suaminya untuk melihat anaknya. Seperti
kegiatannya di tiap akhir bulan.
Nia begitu
senang memilih belanjaannya sampai kalap dan tak sengaja jadi membeli banyak
barang. Belanjaannya begitu banyak Nia sampai keberatan ketika harus membawa
belanjaannya kedalam mobil Brionya. Nia melihat wanita-wanita lain yang datang
ke tempat belanja yang di bantu suaminya membawa barang, melihat wanita-wanita
itu bisa dekat dengan anak-anaknya.
Nia
tersenyum melihatnya. Ia iri, sedikit. Tak masalah tak ada yang membantunya,
tidak memiliki suami juga tak masalah. Asal ia bersama buah hatinya, itu sudah
cukup. Nia langsung pulang dan berencana melakukan live streaming yang
sudah ia tinggalkan semalam.
Nia tak
bisa lama-lama meninggalkan situs dewasa itu. Nia juga merindukan paraa
penontonnya yang memberinya banyak pendapatan. Meskipun Nia juga berencana
untuk menyudahi pekerjaan rahasianya itu. Entah kapan.
“Oh, 205!”
seru Angga kaget melihat Nia yang membawa banyak belanjaan sendirian.
Nia cukup
kaget mendengar ada orang yang meneriaki nomor apartemennya. Tapi ia segera
tersenyum begitu tau jika itu tetangganya sendiri.
“Biarku
bantu,” ucap Angga yang langsung membawakan belanjaan Nia.
“Terimakasih,
maaf jadi merepotkan,” ucap Nia menerima bantuan Angga dengan sungkan lalu
berjalan bersama menuju lift.
Angga
begitu grogi berhadapan dengan Nia dan sedekat ini dengannya. Tapi Angga ingin
dekat dengannya, minimal tau siapa namanya saja untuk saat ini.
“N-namaku
Angga, a-aku…aku pegawai bank,” ucap Angga terbata-bata mengenalkan dirinya.
Nia tertawa
kecil mendengar Angga tiba-tiba memperkenalkan dirinya. “Nia, guru TK,” jawab
Nia sambil tersenyum menunggu hingga pintu lift terbuka.
Angga sudah
tak bisa banyak bicara lagi. Akan sangat aneh jika ia tiba-tiba meminta nomor
telefon atau yang lainnya. “K-kalau kamu kesulitan, atau butuh bantuan. K-kamu
bisa bilang aku,” ucap Angga gugup begitu sampai di lantai tempat apartemen
mereka.
Nia
tersenyum lalu mengangguk. “Terimakasih, maaf jadi merepotkan,” ucap Nia sekali
lagi begitu keluar dari lift dan mengambil plastik belanjaannya dari Angga.
Angga mengangguk lalu menghela nafas karena ia tak memiliki kesempatan lagi untuk bicara dengan Nia setelah ini. Nia terus berjalan ke apartemennya sementara Angga terpaku melihat Nia masuk tanpa basa-basi lagi.
