0
Home  ›  Chapter  ›  Sister Complex

Prolog

Prolog-1


Angela duduk menunggu Wulan pulang sesuai janjinya tadi pagi yang akan datang dan mengajaknya keluar membeli peralatan sekolah. Angela menunggu di ruang tamu sendirian. Sudah mandi sendiri, memakai pakaian yang di ambilkan pengasuhnya juga menyisir rambutnya dan memakai jepit rambut bunga-bunga.

"Angela makan!" ketus pengasuhnya sambil meletakkan mangkuk plastiknya yang berisi nasi dan sayur tadi siang.

Angela menatap makanannya lalu menatap pengasuhnya. Angela tidak suka makan sayur tadi siang, itu juga sudah sayur dari kemarinnya yang tidak habis dan hanya di hangatkan.

"Dimakan! Nanti di marahin mamamu!" ketus pengasuh Angela lagi.

Angela hanya mengangguk lalu tersenyum sambil menghela nafas dan mulai menyendokkan makanannya ke mulut mungilnya sendiri dengan hati-hati agar tidak berceceran dan tumpah kemana-mana. Angela tidak mau di marahi pengasuhnya lagi.

"Ayam!" teriak tukang antar makanan dari restoran ayam yang di pesan pengasuh Angela untuk dirinya sendiri.

Angela menegakkan kepalanya senang mendengar ada delivery makanan yang datang. Angela juga sudah mencium aroma ayam bakar yang manis jadi tambah lapar. Angela senang ia tak harus makan dengan lauk sayur yang terus di hangatkan.

"Apa? Ini aku pesen sendiri! Bukan dari mamamu!" bentak pengasuh Angela ketus saat melihat Angela menatap penuh harap pada makanan yang di bawanya.

Angela mengulum senyumnya lalu mengaduk makanan di mangkuknya.

"Nangis?!" bentak pengasuh Angela lagi saat melihat senyum Angela hilang dari wajah polosnya.

Angela hanya menggeleng lalu kembali tersenyum menatap pengasuhnya dan mulai memakan makanannya. Nanti kalau mamanya datang Angela yakin ia akan di bawa pergi jalan-jalan, ia akan makan enak dan sedikit pelukan. Angela memakan makanannya sambil membayangkan hal-hal indah dan menyenangkan yang akan menghampirinya nanti.

Suara mobil terdengar. Pengasuh Angela yang baru akan melahap ayam bakarnya langsung kelabakan berpura-pura menyuapi Angela dengan ayamnya. Angela menatap heran ke pengasuhnya dan hendak menolak di suapi, tapi pengasuhnya langsung mencubit pahanya hingga ia kesakitan. Angela menahan tangis juga rintih kesaktiannya.

Baca juga 29. Vol. 3 : Chapter 12

"Makan!" perintah pengasuhnya sambil memelototi Angela. Angela membuka mulutnya nurut. "Nyonyah..." sapa pengasuh Angela dengan lembut menyambut kedatangan Wulan.

Angela menatap mamanya lalu segera bangkit untuk berlari memeluk Wulan. "Mama!" pekik Angela senang.

"Mama capek! Udah ga usah sama mama dulu!" bentak Wulan menanggapi sambutan Angela dan langsung melenggang masuk ke kamarnya bahkan pintunya langsung di kunci.

Angan-angan Angela yang begitu indah langsung sirna, tapi Angela kembali tersenyum penuh harap ketika melihat ada undangan pernikahan yang jatuh di bawah garasi mobilnya. Angela memungutnya lalu buru-buru berjalan ke depan kamar mamanya. Angela sudah membayangkan mamanya akan menyambutnya dan berterimakasih padanya karena membawakan barang pentingnya yang terjatuh, Angela bahkan sudah senang duluan kalau ia akan di puji sebagai anak baik, anak pintar.

"Mama, kertasnya mama jatuh," ucap Angela sedikit berhati-hati. Tapi tak ada jawaban dari mamanya, tak mau menyerah Angela kembali memanggil mamanya. "Mama! Mama!" panggil Angela dengan suara lebih lantang yang terdengar begitu mengusik bagi Wulan yang sedang menenangkan dirinya.

"Apa?" saut Wulan dari dalam.

"Kertasnya mama jatuh, aku ambilin," jawab Angela dengan bangga.

Dengan kesal Wulan membuka pintu kamarnya lalu melihat apa yang di bawa putrinya. "Buang! Ga penting. Itu sampah. Kayak kamu! Sampah! Ga jelas bapaknya siapa!" omel Wulan dengan sarkas lalu mendorong Angela menjauh dari pintu kamarnya dengan ujung kakinya. "Kamu ganggu aku sekali lagi, ku buang! Inget kamu ini apa..."

Angela menatap Wulan dengan mata berkaca-kaca. "Sampah..." cicit Angela melanjutkan ucapan Wulan yang di gantung.

Wulan hanya tersenyum sinis lalu membanting pintu kamarnya di hadapan Angela keras-keras. Angela langsung meneteskan airmatanya yang sudah dua hari ia tahan. Angela ingin menangis keras-keras tapi bocah tujuh tahun itu sadar kalau ia menangis dengan bersuara mamanya akan semakin membencinya. Angela membungkam mulutnya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam undangan yang ia temukan tadi.

"Sukurin! Caper sih!" cemooh pengasuh Angela dengan senyum sinis di wajahnya.

Baca juga 28. Vol.3 : Chapter 11

Angela menatapnya sejenak lalu berjalan masuk ke kamarnya dan menutup pintunya pelan. Angela mulai terisak-isak sambil menyimpan kertas penting kesekiannya untuk mencuri sedikit perhatian mamanya yang begitu cantik dan bersinar itu. Angela melepaskan jepit rambutnya lalu mengganti bajunya sendiri dengan piama yang ia ambil sebisanya. Warnanya beda dan bertabrakan kuning dan biru. Sangat kontras.

Angela langsung merebahkan dirinya yang masih terisak di atas tempat tidurnya di ampit dua boneka besar yang selalu menyaksikan tangisannya. Angela bingung ingin cerita pada siapa, mengadu pada siap, dan berharap pada apa. Hanya mamanya dan pengasuhnya yang ia kenal meskipun ia tetap ikut home schooling. Tapi gurunya tak banyak bicara dengannya, hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran saja. Angela sendirian, tidak punya teman, kehilangan harapan.

Dan seperti malam-malam lainnya Angela selalu terlelap karena lelah menangis. Entah apa saja yang di tangisinya, di ratapinya. Tapi orang dewasa tak pernah menganggap anak kecil sepertinya sebagai manusia yang utuh, perasaannya tidak di hitung, komplainnya tidak di dengarkan, tangisnya di hitung sebagai tantrum semata.

●●●

"Makan!" ucap Wulan dingin memerintah Angela yang baru bangun untuk sarapan bersamanya.

Wulan sudah menyiapkan roti tawar dengan selai kacang. Sebenarnya Angela jijik dengan selai kacang tapi karena mamanya selalu menyediakan itu dan kali ini mamanya yang menyediakan. Maka selai kacang jadi makanan favorit Angela.

Angela langsung mengangguk dan menggigit rotinya dengan wajah sumringah.

Wulan menghela nafas menatap Angela. Masih ada bekas air mata di kedua pipinya, itu sedikit membuat Wulan iba dan menyesal sudah jahat pada anaknya yang terus menunggunya. "Nanti aku pergi kerja, kamu jangan nunggu aku. Paham? "

Angela langsung mengangguk patuh pada ucapan mamanya. Wulan masuk ke kamarnya lalu memberikan pastel dua belas warna dan buku gambar pada Angela. "Aku ga ada acara sama anak-anak panti asuhan. Jadi kamu ga usah berharap bakal pergi keluar sama aku. Jangan coret-coret tembok, lantai. Gambar yang bener." Wulan kembali mewanti-wanti Angela dan Angela kembali memberikan reaksi yang sama.

Wulan menyeruput tehnya lalu kembali ke kamarnya mengambil tas dan sebuah koper lalu pergi tanpa pamit pada Angela. Angela langsung turun dari kursi dan berlari keluar hanya bisa melihat mamanya berlalu dengan mobilnya. "Mama... "

Angela kembali menghabiskan waktunya seharian di rumah bersama pengasuhnya yang begitu kasar padanya. Kali ini Angela menunggu dengan perasaan sedikit lebih senang karena mamanya membelikan pastel dan buku gambar. Setidaknya Angela tau kalau mamanya masih ingat padanya. Meskipun sampai sekarang Angela tidak paham kenapa ia hanya boleh keluar bersama anak-anak panti asuhan. Kenapa mamanya hanya memeluknya, menggendongnya, mencium dan bersikap hangat ketika bersama anak-anak panti saja. Bukankah lebih enak berkata halus dan bersikap hangat setiap hari dari pada harus marah-marah dan berkata kasar pikir Angela.

Tapi menjelang malam saat Angela tengah menunggu mamanya pulang. Tiba-tiba pengasuhnya mengepak semua baju-baju milik Angela kedalam sebuah koper besar. Angela yang tak punya banyak baju jelas tidak memerlukan banyak tempat untuk mengepak bajunya, maka pengasuh Angela memasukkan semua barang-barang Angela tanpa satupun tersisa. Peralatan sekolah dan mainan di masukkan ke dalam ransel pink milik Angela.

Angela bingung kenapa tiba-tiba pengasuhnya mengepak barang-barangnya. Angela merasa sudah jadi anak baik dan tidak banyak omong hari ini. Tapi kenapa barang-barangnya di kemasi?

Tak cukup sampai di situ pengasuh Angela tanpa menjelaskan dan bicara apapun pada Angela langsung menyerahkan Angela pada seorang pria. Pria itu juga tidak berkata apapun pada Angela dan langsung tancap gas membawanya pergi. Angela hanya diam sambil sesekali tersenyum. Angela yakin kalau ia diam dan tersenyum maka ia tidak akan mengalami sesuatu yang buruk atau memperkeruh situasinya.

"...oprasi tangkap tangan atau OTT yang di lakukan KPK siang hari ini berhasil menangkap Wulansari mantan politisi partai Indonesia Bersatu dalam hotel dengan barang bukti uang di taksir senilai enam belas miliar rupiah yang di letakkan dalam sepuluh buah tas mewah Channel..." suara penyiar berita di radio mobil sepanjang jalan entah kemana Angela di bawa.

Angela selalu ingin pergi, keluar, melihat jalan tapi bukan yang seperti ini. Angela bingung akan situasinya. Angela tidak mengerti apapun. Bahkan Angela belum menyadari kalau berita di radio yang terus menyebut nama Wulansari itu adalah mamanya. Angela tidak pernah tau nama mamanya, ia hanya memanggil mama jadi Angela menyimpulkan kalau namanya Mama. [Next]

Prolog-2


31
2 komentar
Search
Menu
Theme
Share