Prolog
Angela duduk menunggu Wulan
pulang sesuai janjinya tadi pagi yang akan datang dan mengajaknya keluar
membeli peralatan sekolah. Angela menunggu di ruang tamu sendirian. Sudah mandi
sendiri, memakai pakaian yang di ambilkan pengasuhnya juga menyisir rambutnya
dan memakai jepit rambut bunga-bunga.
"Angela makan!"
ketus pengasuhnya sambil meletakkan mangkuk plastiknya yang berisi nasi dan
sayur tadi siang.
Angela menatap makanannya lalu
menatap pengasuhnya. Angela tidak suka makan sayur tadi siang, itu juga sudah
sayur dari kemarinnya yang tidak habis dan hanya di hangatkan.
"Dimakan! Nanti di
marahin mamamu!" ketus pengasuh Angela lagi.
Angela hanya mengangguk lalu
tersenyum sambil menghela nafas dan mulai menyendokkan makanannya ke mulut
mungilnya sendiri dengan hati-hati agar tidak berceceran dan tumpah
kemana-mana. Angela tidak mau di marahi pengasuhnya lagi.
"Ayam!" teriak
tukang antar makanan dari restoran ayam yang di pesan pengasuh Angela untuk
dirinya sendiri.
Angela menegakkan kepalanya
senang mendengar ada delivery makanan yang datang. Angela juga sudah mencium
aroma ayam bakar yang manis jadi tambah lapar. Angela senang ia tak harus makan
dengan lauk sayur yang terus di hangatkan.
"Apa? Ini aku pesen
sendiri! Bukan dari mamamu!" bentak pengasuh Angela ketus saat melihat
Angela menatap penuh harap pada makanan yang di bawanya.
Angela mengulum senyumnya lalu
mengaduk makanan di mangkuknya.
"Nangis?!" bentak
pengasuh Angela lagi saat melihat senyum Angela hilang dari wajah polosnya.
Angela hanya menggeleng lalu
kembali tersenyum menatap pengasuhnya dan mulai memakan makanannya. Nanti kalau
mamanya datang Angela yakin ia akan di bawa pergi jalan-jalan, ia akan makan
enak dan sedikit pelukan. Angela memakan makanannya sambil membayangkan hal-hal
indah dan menyenangkan yang akan menghampirinya nanti.
Suara mobil terdengar.
Pengasuh Angela yang baru akan melahap ayam bakarnya langsung kelabakan
berpura-pura menyuapi Angela dengan ayamnya. Angela menatap heran ke
pengasuhnya dan hendak menolak di suapi, tapi pengasuhnya langsung mencubit
pahanya hingga ia kesakitan. Angela menahan tangis juga rintih kesaktiannya.
"Makan!" perintah
pengasuhnya sambil memelototi Angela. Angela membuka mulutnya nurut.
"Nyonyah..." sapa pengasuh Angela dengan lembut menyambut kedatangan
Wulan.
Angela menatap mamanya lalu
segera bangkit untuk berlari memeluk Wulan. "Mama!" pekik Angela
senang.
"Mama capek! Udah ga usah
sama mama dulu!" bentak Wulan menanggapi sambutan Angela dan langsung
melenggang masuk ke kamarnya bahkan pintunya langsung di kunci.
Angan-angan Angela yang begitu
indah langsung sirna, tapi Angela kembali tersenyum penuh harap ketika melihat
ada undangan pernikahan yang jatuh di bawah garasi mobilnya. Angela memungutnya
lalu buru-buru berjalan ke depan kamar mamanya. Angela sudah membayangkan
mamanya akan menyambutnya dan berterimakasih padanya karena membawakan barang
pentingnya yang terjatuh, Angela bahkan sudah senang duluan kalau ia akan di
puji sebagai anak baik, anak pintar.
"Mama, kertasnya mama
jatuh," ucap Angela sedikit berhati-hati. Tapi tak ada jawaban dari
mamanya, tak mau menyerah Angela kembali memanggil mamanya. "Mama!
Mama!" panggil Angela dengan suara lebih lantang yang terdengar begitu
mengusik bagi Wulan yang sedang menenangkan dirinya.
"Apa?" saut Wulan
dari dalam.
"Kertasnya mama jatuh,
aku ambilin," jawab Angela dengan bangga.
Dengan kesal Wulan membuka
pintu kamarnya lalu melihat apa yang di bawa putrinya. "Buang! Ga penting.
Itu sampah. Kayak kamu! Sampah! Ga jelas bapaknya siapa!" omel Wulan
dengan sarkas lalu mendorong Angela menjauh dari pintu kamarnya dengan ujung
kakinya. "Kamu ganggu aku sekali lagi, ku buang! Inget kamu ini
apa..."
Angela menatap Wulan dengan
mata berkaca-kaca. "Sampah..." cicit Angela melanjutkan ucapan Wulan
yang di gantung.
Wulan hanya tersenyum sinis
lalu membanting pintu kamarnya di hadapan Angela keras-keras. Angela langsung
meneteskan airmatanya yang sudah dua hari ia tahan. Angela ingin menangis
keras-keras tapi bocah tujuh tahun itu sadar kalau ia menangis dengan bersuara
mamanya akan semakin membencinya. Angela membungkam mulutnya sendiri dengan
tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam undangan yang ia temukan
tadi.
"Sukurin! Caper
sih!" cemooh pengasuh Angela dengan senyum sinis di wajahnya.
Angela menatapnya sejenak lalu
berjalan masuk ke kamarnya dan menutup pintunya pelan. Angela mulai
terisak-isak sambil menyimpan kertas penting kesekiannya untuk mencuri
sedikit perhatian mamanya yang begitu cantik dan bersinar itu. Angela melepaskan
jepit rambutnya lalu mengganti bajunya sendiri dengan piama yang ia ambil
sebisanya. Warnanya beda dan bertabrakan kuning dan biru. Sangat kontras.
Angela langsung merebahkan
dirinya yang masih terisak di atas tempat tidurnya di ampit dua boneka besar yang
selalu menyaksikan tangisannya. Angela bingung ingin cerita pada siapa, mengadu
pada siap, dan berharap pada apa. Hanya mamanya dan pengasuhnya yang ia kenal
meskipun ia tetap ikut home schooling. Tapi gurunya tak banyak bicara
dengannya, hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran saja. Angela sendirian,
tidak punya teman, kehilangan harapan.
Dan seperti malam-malam
lainnya Angela selalu terlelap karena lelah menangis. Entah apa saja yang di
tangisinya, di ratapinya. Tapi orang dewasa tak pernah menganggap anak kecil
sepertinya sebagai manusia yang utuh, perasaannya tidak di hitung, komplainnya
tidak di dengarkan, tangisnya di hitung sebagai tantrum semata.
●●●
"Makan!" ucap Wulan
dingin memerintah Angela yang baru bangun untuk sarapan bersamanya.
Wulan sudah menyiapkan roti
tawar dengan selai kacang. Sebenarnya Angela jijik dengan selai kacang tapi
karena mamanya selalu menyediakan itu dan kali ini mamanya yang menyediakan.
Maka selai kacang jadi makanan favorit Angela.
Angela langsung mengangguk dan
menggigit rotinya dengan wajah sumringah.
Wulan menghela nafas menatap
Angela. Masih ada bekas air mata di kedua pipinya, itu sedikit membuat Wulan
iba dan menyesal sudah jahat pada anaknya yang terus menunggunya. "Nanti
aku pergi kerja, kamu jangan nunggu aku. Paham? "
Angela langsung mengangguk
patuh pada ucapan mamanya. Wulan masuk ke kamarnya lalu memberikan pastel dua
belas warna dan buku gambar pada Angela. "Aku ga ada acara sama anak-anak
panti asuhan. Jadi kamu ga usah berharap bakal pergi keluar sama aku. Jangan
coret-coret tembok, lantai. Gambar yang bener." Wulan kembali
mewanti-wanti Angela dan Angela kembali memberikan reaksi yang sama.
Wulan menyeruput tehnya lalu
kembali ke kamarnya mengambil tas dan sebuah koper lalu pergi tanpa pamit pada
Angela. Angela langsung turun dari kursi dan berlari keluar hanya bisa melihat
mamanya berlalu dengan mobilnya. "Mama... "
Angela kembali menghabiskan
waktunya seharian di rumah bersama pengasuhnya yang begitu kasar padanya. Kali
ini Angela menunggu dengan perasaan sedikit lebih senang karena mamanya
membelikan pastel dan buku gambar. Setidaknya Angela tau kalau mamanya masih
ingat padanya. Meskipun sampai sekarang Angela tidak paham kenapa ia hanya
boleh keluar bersama anak-anak panti asuhan. Kenapa mamanya hanya memeluknya,
menggendongnya, mencium dan bersikap hangat ketika bersama anak-anak panti
saja. Bukankah lebih enak berkata halus dan bersikap hangat setiap hari dari
pada harus marah-marah dan berkata kasar pikir Angela.
Tapi menjelang malam saat
Angela tengah menunggu mamanya pulang. Tiba-tiba pengasuhnya mengepak semua
baju-baju milik Angela kedalam sebuah koper besar. Angela yang tak punya banyak
baju jelas tidak memerlukan banyak tempat untuk mengepak bajunya, maka pengasuh
Angela memasukkan semua barang-barang Angela tanpa satupun tersisa. Peralatan
sekolah dan mainan di masukkan ke dalam ransel pink milik Angela.
Angela bingung kenapa
tiba-tiba pengasuhnya mengepak barang-barangnya. Angela merasa sudah jadi anak
baik dan tidak banyak omong hari ini. Tapi kenapa barang-barangnya di kemasi?
Tak cukup sampai di situ
pengasuh Angela tanpa menjelaskan dan bicara apapun pada Angela langsung
menyerahkan Angela pada seorang pria. Pria itu juga tidak berkata apapun pada
Angela dan langsung tancap gas membawanya pergi. Angela hanya diam sambil
sesekali tersenyum. Angela yakin kalau ia diam dan tersenyum maka ia tidak akan
mengalami sesuatu yang buruk atau memperkeruh situasinya.
"...oprasi tangkap tangan
atau OTT yang di lakukan KPK siang hari ini berhasil menangkap Wulansari mantan
politisi partai Indonesia Bersatu dalam hotel dengan barang bukti uang di
taksir senilai enam belas miliar rupiah yang di letakkan dalam sepuluh buah tas
mewah Channel..." suara penyiar berita di radio mobil sepanjang jalan entah
kemana Angela di bawa.
Angela selalu ingin pergi, keluar, melihat jalan tapi bukan yang seperti ini. Angela bingung akan situasinya. Angela tidak mengerti apapun. Bahkan Angela belum menyadari kalau berita di radio yang terus menyebut nama Wulansari itu adalah mamanya. Angela tidak pernah tau nama mamanya, ia hanya memanggil mama jadi Angela menyimpulkan kalau namanya Mama. [Next]
Next!
BalasHapusNext!
BalasHapus