0
Home  ›  Chapter  ›  Diplomatic Marriage

Prolog

Prolog-1

Meskipun semua orang akan melupakan ini seiring berjalannya waktu. Meskipun setelah kehancuran kerajaan kecil ini semua juga akan melupakannya begitu saja. Tapi rasanya hal ini tetap tak menggentarkan sedikitpun niat Avena untuk menyerah. Tuan putri Avena Espen tetap ingin melawan dan membantu kerajaan kecil lainnya yang dibumi hanguskan oleh kerajaan Wilder yang di pimpin oleh Evander Calix yang agung.

Seorang pria yang begitu kejam dan bengis, masih muda memang jika dibandingkan dengan prestasinya menaklukan puluhan kerajaan kecil. Evander seorang jendral perang yang tampan bak dewa Yunani, tubuhnya seolah di bentuk langsung oleh sang pencipta hingga tampak begitu sempurna, wajahnya yang tegas dan tampan di saat yang bersamaan, tubuh tinggi gagah atletis, otot-ototnya dan jangan lupalan tayapan matanya yang tajam itu. Namun sayang Evander masih lajang.

"Sebelum perang selanjutnya, kau harus sudah memiliki pasangan. Ini penting juga untuk meneruskan garis keturunanmu," titah Raja Hannes pada Evander yang baru pulang perang.

Evander tersenyum mendengar perintah tersebut. Sudah lama ia tak memikirkan dirinya sendiri. Tapi hal itu bukan berarti ia tak memiliki gadis incarannya sendiri.

Seorang putri dari kerajaan kecil di dekat kerajaan Wilder. Raja yang terlalu dermawan dan putrinya yang begitu rendah hati untuk menampung para korban perang dan para pengecut yang kabur ketika negerinya di rebut. Astoria, kerajaan kecil yang miskin dan minim kekuatan militer. Bahkan rasanya untuk menaklukkan kerajaan itu Evander hanya memerlukan 10 pasukannya saja tidak lebih. Evander memang mesin pembunuh.

Namun Evander masih ingat betul pada Avena yang mencari tanaman herbal waktu itu. Evander ingat ia sedang berburu rusa dan begitu terpesona melihat kecantikan paras Avena dan senandung cerianya kala itu.

Bak di negeri dongeng, bertemu gadis manis dengan rambut panjang yang di ikat rapi di belakang, wajahnya begitu berseri dengan senyum cerianya tiap kali menemukan tumbuhan yang ia cari. Evander ingin mendekatinya tapi ia bingung harus apa, atau lebih tepatnya terlalu kikuk untuk itu. Hingga akhirnya Avena menyadari ada orang lain selain dirinya di hutan.

Avena refleks berlari hendak kabur dan bersembunyi, begitu juga dengan kuda yang di gunakan oleh Evander yang refleks berlari karena melihat ada rusa hingga Evander kehilangan keseimbangannya. Ini memalukan seorang jendral kehilangan keseimbangan dari kudanya. Tapi ini adalah kesempatan emasnya untuk bertemu Avena.

"Ya ampun! Kau baik-baik saja?" Avena langsung mendekat memastikan Evander yang baru jatuh tadi dalam keadaan baik.

"A-ah i-iya aku baik-baik saja..." Evander benar-benar kikuk sekarang.

Avena terlihat lebih menawan berkali-kali lipat ketika di lihat sedekat ini.

"Apa kau dari kerajaan Wilder?" Evander memastikan untuk memulai pembicaraan agar ia tak salah ketika jatuh cinta kali ini.

Avena menggeleng. "Dari kerajaan  Astoria, hanya kerajaan kecil. Kami berjualan obat dan teh herbal," jawab Avena tanpa curiga lalu mengulurkan tangannya. "Avena Espen."

Evander langsung membelalakkan matanya. Pertama Avena bukan dari kerajaannya, kedua Avena Espen adalah putri pewaris kerajaan Astoria, gadis ini adalah seorang putri mahkota!

"Yang Mulia..." Evander langsung membungkuk memberi hormat dengan sopan.

Avena tersenyum lalu ikut membungkuk.

Baca juga 29. Vol. 3 : Chapter 12

"Putri Avena!" Teriak seorang pria dari kerajaan Astoria terdengar.

"Aku pergi dulu, kau juga pergilah. Disini terlalu dekat dengan kerajaan Wilder, kau harus berhati-hati pada Jendral Evander Calix, paham?"

Dengan polosnya Evander mengangguk.

"Maaf aku tidak bisa mengobatimu!" Avena berlalu berlari menuju suara yang memanggilnya, meninggalkan Evander dengan perasaannya yang jadi tak karuan.

Pertemuan itu benar-benar singkat, namun rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Evander jatuh hati pada putri mahkota itu, Avena Espen. Evander tersenyum sumringah, ia tau pasti gadis itu memperingatkan kekejamannya pada semua orang. Tapi mendengar kekhawatiran itu, perhatian kecil itu, dan suara lembut serta senyumnya. Evander di mabuk cinta.

Hampir di setiap kesempatan ketika orang-orang mulai menyinggung soal kehidupan asmaranya ia yang semula terlihat datar akan mulai memunculkan senyum di wajahnya yang tampan dan dingin itu. Senyum yang membuatnya terlihat mudah untuk di gapai, membuatnya tampak hangat dan humanis. Senyum yang selalu muncul tiap ia teringat pada Avena.

"Aku ingin menikahi putri mahkota kerajaan Astoria, kerajaannya kecil, tapi mereka ahli dalam pengobatan dan medis. Pasukanku pasti akan semakin kuat kalau kami memiliki tenaga medis yang kompeten," ucap Evander meminta ijin pada Raja Hannes.

Raja mengangguk setuju. "Itu ide yang hebat, aku merestuimu."

Maka dengan restu dari raja, Evander pergi melamar sang putri mahkota. Evander membawa banyak hadiah yang terbaik dari kerajaannya bersama 100 pasukannya. Meskipun Evander datang dengan niat baik rasanya dengan gelarnya sebagai seorang jendral perang yang sudah membumi hanguskan puluhan kerajaan ia tetap terlihat mengerikan. Bahkan kedatangannya tetap terasa seperti peringatan perang bagi kerajaan Astoria yang kecil.

Raja Warren berusaha tenang di singga sananya meskipun kedatangan Evander cukup membuatnya gemetar. Evander yang kaku dan tak pandai berbicara hanya langsung memberikan hadiah-hadiahnya lalu diam menatap Raja Warren dengan pandangannya yang begitu mengintimidasi. Evander tak bermaksud untuk itu, tapi ia sudah terbiasa memasang tampang itu jika sedang gugup.

“Jadi apa maksud kedatangan seorang Jendral Perang sepertimu ke kerajaanku?” tanya Raja Warren setelah lama diam melihat banyaknya hadiah yang Evander berikan padanya.

“Aku ingin menikahi putrimu, Putri Avena Espen.”

Seketika semua orang disana terkejut dan hanya bisa termenung mendengar ucapan Evander yang begitu tenang melamar sang putri mahkota.

Baca juga 28. Vol.3 : Chapter 11

“Aku berjanji tidak akan membumi hanguskan kerajaan ini, aku juga akan melindungi kerajaan ini jika aku di izinkan untuk menikahi putri Avena.”

Orang-orang makin terkejut lagi mendengar tawaran Evander. Ia seorang jendral perang yang paling di kagumi. Mereka yakin Evander bisa memilih siapapun dan yakin jika siapapun yang di pilih pasti akan menerimanya. Tapi kenapa ia malah memilih Avena yang dari kerajaan kecil ini? Bahkan Avena juga tak populer, ia hanya terus membuat obat dan merawat para korban perang. Bagaimana bisa gadis sepertinya malah mencuri hati seorang Jendral Perang seperti Evander.

“Panggilkan Avena!” perintah Raja Warren pada ajudannya. “Ini bagus, tapi sepertinya Tuan salah orang, putriku tidak populer, tidak secantik gadis-gadis yang ada di kerajaan Wilder,” ucap Raja begitu sungkan.

Evander diam dengan tatapannya yang dingin dan tajam. Lalu duduk di kursi yang langsung di siapkan. Kerajaan ini benar-benar miskin, begitu jauh berbeda dengan kerajaan Wilder yang mewah dan bergelimang harta. Evander menunggu sembari memperhatikan sekeliling. Rasanya tak butuh waktu satu jam ia bisa meluluh lantahkan tempat ini.

Sampai akhirnya Avena datang dengan terburu-buru menemui Jendral Perang dari kerajaan Wilder. Avena menatap Evander yang tak terlihat asing baginya dan Evander langsung tersenyum sumringah seolah menemukan apa yang selama ini ia cari-cari. Avenanya yang mempesona dan sudah sukses mencuri hatinya.

“Jika aku mau menikah denganmu, kau janji tidak akan menghancurkan kerjaanku dan akan melindungi rakyatku juga?” tanya Avena dengan nafas terengah-engah.

Evander langsung mengangguk dengan penuh keyakinan. “Aku janji!” ucapnya dengan serius dan tak terlihat sedikitpun keraguan.

Avena menatap ayahnya lalu menatap seluruh orang yang ada di istananya. Avena beberapa kali meremas tangannya. Ini kesepakatan yang bagus persis seperti apa yang di katakana ajudan ayahnya. Avena mengelus dadanya sembari mempertimbangkan semuanya.

Evander mengeluarkan cincin emas bertahtakan berlian yang indah untuk Avena. Avena menatap Evander, pria itu tampak begitu tampan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Avena benar-benar tak menyangka  jika Jendral yang menyebabkan begitu banyak kekacauan ini akan menjadi suaminya.

“A-ap-apa aku bisa berpikir beberapa hari?” tanya Avena sembari bersimpuh di lantai di bawah singga sana ayahnya.

Evander mengerutkan keningnya, senyumnya mulai pudar.

“Ak-aku masih harus mengobati banyak orang…”

“Kau bisa melakukannya saat menjadi istriku,” ucap Evander yang enggan menunggu lagi.

Avena menatap ayahnya seolah meminta tolong. Ia tak mau menikahi seorang mesin pembunuh seperti Evander. Tapi ia juga tak mau membuat kerajaannya berperang dengan Evander yang Agung ini.

“Kau janji?” tanya Avena dengan airmata yang mulai berlinangan.

“Tentu, aku sudah dua kali mengatakan janji di tempat ini. Ayolah apa aku terlihat seperti penipu?”

Avena mendekat lalu memakai cincin pemberian Evander.

“Kau tidak akan menyesalinya,” ucap Evander dengan penuh suka cita.

Prolog-2


11
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share