Prolog
Meskipun semua orang akan melupakan
ini seiring berjalannya waktu. Meskipun setelah kehancuran kerajaan kecil ini
semua juga akan melupakannya begitu saja. Tapi rasanya hal ini tetap tak
menggentarkan sedikitpun niat Avena untuk menyerah. Tuan putri Avena Espen
tetap ingin melawan dan membantu kerajaan kecil lainnya yang dibumi hanguskan
oleh kerajaan Wilder yang di pimpin oleh Evander Calix yang agung.
Seorang pria yang begitu kejam dan
bengis, masih muda memang jika dibandingkan dengan prestasinya menaklukan
puluhan kerajaan kecil. Evander seorang jendral perang yang tampan bak dewa
Yunani, tubuhnya seolah di bentuk langsung oleh sang pencipta hingga tampak
begitu sempurna, wajahnya yang tegas dan tampan di saat yang bersamaan, tubuh
tinggi gagah atletis, otot-ototnya dan jangan lupalan tayapan matanya yang
tajam itu. Namun sayang Evander masih lajang.
"Sebelum perang selanjutnya, kau
harus sudah memiliki pasangan. Ini penting juga untuk meneruskan garis
keturunanmu," titah Raja Hannes pada Evander yang baru pulang perang.
Evander tersenyum mendengar perintah
tersebut. Sudah lama ia tak memikirkan dirinya sendiri. Tapi hal itu bukan
berarti ia tak memiliki gadis incarannya sendiri.
Seorang putri dari kerajaan kecil di
dekat kerajaan Wilder. Raja yang terlalu dermawan dan putrinya yang begitu
rendah hati untuk menampung para korban perang dan para pengecut yang kabur
ketika negerinya di rebut. Astoria, kerajaan kecil yang miskin dan minim
kekuatan militer. Bahkan rasanya untuk menaklukkan kerajaan itu Evander hanya
memerlukan 10 pasukannya saja tidak lebih. Evander memang mesin pembunuh.
Namun Evander masih ingat betul pada
Avena yang mencari tanaman herbal waktu itu. Evander ingat ia sedang berburu
rusa dan begitu terpesona melihat kecantikan paras Avena dan senandung cerianya
kala itu.
Bak di negeri dongeng, bertemu gadis
manis dengan rambut panjang yang di ikat rapi di belakang, wajahnya begitu
berseri dengan senyum cerianya tiap kali menemukan tumbuhan yang ia cari.
Evander ingin mendekatinya tapi ia bingung harus apa, atau lebih tepatnya
terlalu kikuk untuk itu. Hingga akhirnya Avena menyadari ada orang lain selain
dirinya di hutan.
Avena refleks berlari hendak kabur dan
bersembunyi, begitu juga dengan kuda yang di gunakan oleh Evander yang refleks
berlari karena melihat ada rusa hingga Evander kehilangan keseimbangannya. Ini
memalukan seorang jendral kehilangan keseimbangan dari kudanya. Tapi ini adalah
kesempatan emasnya untuk bertemu Avena.
"Ya ampun! Kau baik-baik
saja?" Avena langsung mendekat memastikan Evander yang baru jatuh tadi
dalam keadaan baik.
"A-ah i-iya aku baik-baik
saja..." Evander benar-benar kikuk sekarang.
Avena terlihat lebih menawan
berkali-kali lipat ketika di lihat sedekat ini.
"Apa kau dari kerajaan
Wilder?" Evander memastikan untuk memulai pembicaraan agar ia tak salah
ketika jatuh cinta kali ini.
Avena menggeleng. "Dari
kerajaan Astoria, hanya kerajaan kecil.
Kami berjualan obat dan teh herbal," jawab Avena tanpa curiga lalu
mengulurkan tangannya. "Avena Espen."
Evander langsung membelalakkan
matanya. Pertama Avena bukan dari kerajaannya, kedua Avena Espen adalah putri
pewaris kerajaan Astoria, gadis ini adalah seorang putri mahkota!
"Yang Mulia..." Evander
langsung membungkuk memberi hormat dengan sopan.
Avena tersenyum lalu ikut membungkuk.
"Putri Avena!" Teriak
seorang pria dari kerajaan Astoria terdengar.
"Aku pergi dulu, kau juga
pergilah. Disini terlalu dekat dengan kerajaan Wilder, kau harus berhati-hati
pada Jendral Evander Calix, paham?"
Dengan polosnya Evander mengangguk.
"Maaf aku tidak bisa
mengobatimu!" Avena berlalu berlari menuju suara yang memanggilnya,
meninggalkan Evander dengan perasaannya yang jadi tak karuan.
Pertemuan itu benar-benar singkat,
namun rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Evander jatuh hati pada
putri mahkota itu, Avena Espen. Evander tersenyum sumringah, ia tau pasti gadis
itu memperingatkan kekejamannya pada semua orang. Tapi mendengar kekhawatiran
itu, perhatian kecil itu, dan suara lembut serta senyumnya. Evander di mabuk
cinta.
Hampir di setiap kesempatan ketika
orang-orang mulai menyinggung soal kehidupan asmaranya ia yang semula terlihat
datar akan mulai memunculkan senyum di wajahnya yang tampan dan dingin itu.
Senyum yang membuatnya terlihat mudah untuk di gapai, membuatnya tampak hangat
dan humanis. Senyum yang selalu muncul tiap ia teringat pada Avena.
"Aku ingin menikahi putri mahkota
kerajaan Astoria, kerajaannya kecil, tapi mereka ahli dalam pengobatan dan
medis. Pasukanku pasti akan semakin kuat kalau kami memiliki tenaga medis yang
kompeten," ucap Evander meminta ijin pada Raja Hannes.
Raja mengangguk setuju. "Itu ide
yang hebat, aku merestuimu."
Maka dengan restu dari raja, Evander
pergi melamar sang putri mahkota. Evander membawa banyak hadiah yang terbaik
dari kerajaannya bersama 100 pasukannya. Meskipun Evander datang dengan niat baik rasanya dengan
gelarnya sebagai seorang jendral perang yang sudah membumi hanguskan puluhan
kerajaan ia tetap terlihat mengerikan. Bahkan kedatangannya tetap terasa
seperti peringatan perang bagi kerajaan Astoria yang kecil.
Raja Warren berusaha tenang di singga
sananya meskipun kedatangan Evander cukup membuatnya gemetar. Evander yang kaku
dan tak pandai berbicara hanya langsung memberikan hadiah-hadiahnya lalu diam
menatap Raja Warren dengan pandangannya yang begitu mengintimidasi. Evander tak
bermaksud untuk itu, tapi ia sudah terbiasa memasang tampang itu jika sedang
gugup.
“Jadi apa maksud kedatangan seorang
Jendral Perang sepertimu ke kerajaanku?” tanya Raja Warren setelah lama diam
melihat banyaknya hadiah yang Evander berikan padanya.
“Aku ingin menikahi putrimu, Putri
Avena Espen.”
Seketika semua orang disana terkejut
dan hanya bisa termenung mendengar ucapan Evander yang begitu tenang melamar
sang putri mahkota.
“Aku berjanji tidak akan membumi
hanguskan kerajaan ini, aku juga akan melindungi kerajaan ini jika aku di
izinkan untuk menikahi putri Avena.”
Orang-orang makin terkejut lagi
mendengar tawaran Evander. Ia seorang jendral perang yang paling di kagumi.
Mereka yakin Evander bisa memilih siapapun dan yakin jika siapapun yang di
pilih pasti akan menerimanya. Tapi kenapa ia malah memilih Avena yang dari
kerajaan kecil ini? Bahkan Avena juga tak populer, ia hanya terus membuat obat dan
merawat para korban perang. Bagaimana bisa gadis sepertinya malah mencuri hati
seorang Jendral Perang seperti Evander.
“Panggilkan Avena!” perintah Raja
Warren pada ajudannya. “Ini bagus, tapi sepertinya Tuan salah orang, putriku
tidak populer, tidak secantik gadis-gadis yang ada di kerajaan Wilder,” ucap
Raja begitu sungkan.
Evander diam dengan tatapannya yang
dingin dan tajam. Lalu duduk di kursi yang langsung di siapkan. Kerajaan ini
benar-benar miskin, begitu jauh berbeda dengan kerajaan Wilder yang mewah dan
bergelimang harta. Evander menunggu sembari memperhatikan sekeliling. Rasanya
tak butuh waktu satu jam ia bisa meluluh lantahkan tempat ini.
Sampai akhirnya Avena datang dengan
terburu-buru menemui Jendral Perang dari kerajaan Wilder. Avena menatap
Evander yang tak terlihat asing baginya dan Evander langsung tersenyum
sumringah seolah menemukan apa yang selama ini ia cari-cari. Avenanya yang
mempesona dan sudah sukses mencuri hatinya.
“Jika aku mau
menikah denganmu, kau janji tidak akan menghancurkan kerjaanku dan akan
melindungi rakyatku juga?” tanya Avena dengan nafas terengah-engah.
Evander
langsung mengangguk dengan penuh keyakinan. “Aku janji!” ucapnya dengan serius
dan tak terlihat sedikitpun keraguan.
Avena menatap
ayahnya lalu menatap seluruh orang yang ada di istananya. Avena beberapa kali
meremas tangannya. Ini kesepakatan yang bagus persis seperti apa yang di
katakana ajudan ayahnya. Avena mengelus dadanya sembari mempertimbangkan
semuanya.
Evander
mengeluarkan cincin emas bertahtakan berlian yang indah untuk Avena. Avena
menatap Evander, pria itu tampak begitu tampan dengan senyum yang menghiasi
wajahnya. Avena benar-benar tak menyangka
jika Jendral yang menyebabkan begitu banyak kekacauan ini akan menjadi
suaminya.
“A-ap-apa aku
bisa berpikir beberapa hari?” tanya Avena sembari bersimpuh di lantai di bawah
singga sana ayahnya.
Evander
mengerutkan keningnya, senyumnya mulai pudar.
“Ak-aku masih
harus mengobati banyak orang…”
“Kau bisa
melakukannya saat menjadi istriku,” ucap Evander yang enggan menunggu lagi.
Avena menatap
ayahnya seolah meminta tolong. Ia tak mau menikahi seorang mesin pembunuh
seperti Evander. Tapi ia juga tak mau membuat kerajaannya berperang dengan
Evander yang Agung ini.
“Kau janji?”
tanya Avena dengan airmata yang mulai berlinangan.
“Tentu, aku
sudah dua kali mengatakan janji di tempat ini. Ayolah apa aku terlihat seperti
penipu?”
Avena mendekat
lalu memakai cincin pemberian Evander.
“Kau tidak akan menyesalinya,” ucap Evander dengan penuh suka cita.