Bintang Jatuh
“…dan
para bintang jatuh akan membawa harapan semua orang di bumi yang melihatnya
untuk dikabulkan keesokan harinya…”
Anna
memandangi dinosaurus warna ungu yang sedang membacakan cerita dari dalam TV
yang dipajang dalam etalase toko elektronik sambil menggenggam ujung kaosnya
yang mulai ada lubang-lubang kecil karena termakan usia di sekitar jahitannya.
Entah apa warna awal kaosnya, entah putih, entah krem yang jelas sekarang jadi
cenderung coklat, ada bercak hitamnya tapak alas kaki entah siapa yang
menendang bocah itu. Rambutnya terikat semampunya, rambut tipis kemerahan dan
ada bekas jahitan di dekat alisnya.
Bocah itu
memandangi TV 41 inch yang begitu besar dan megah itu dengan begitu fokus.
Sesekali ia membayangkan kalau saja ia bisa bertemu dengan peri gigi, santa
yang membawa hadiah, atau terbang dengan bubuk gliter seperti para peri kecil.
Sesekali ia membayangkan kalau saja boleh menonton lebih lama, di luar juga
sudah senang.
“Ibu beli
ini! Nanti taruh di kamarku!” rengek seorang anak laki-laki dengan kulit putih
dan mata sipitnya penampilannya begitu bersih di tunjang juga dengan seragam
birunya yang khas sekolah swasta, ia berteriak sambil menunjuk TV yang baru
Anna tonton tadi.
Anna mulai
tersadar lalu berpura-pura memilah sampah dan mengambil karung yang jatuh
disebelahnya. Memasukkan beberapa sampah plastik, rafia, botol dan beberapa
kardus sembari mencuri pandang ke TV melihat kelanjutan apakah harapan
anak-anak yang berkeliling di sekitar dinosaurus ungu itu akan benar-benar
terwujud keesokan harinya.
Tapi
seorang seles bergerak cepat mondar-mandir didepan TV itu. Anak laki-laki itu
benar-benar dibelikan TV. Anna memperhatikannya hingga ia keluar dari toko.
Ah…betapa beruntungnya anak laki-laki itu dapat kardus besar tanpa perlu repot
mencari, pikir Anna yang sedikit teralih sebelum kembali melirik TV di dalam
dan tada! Bintang jatuh benar-benar mengabulkan permohonan anak-anak di sekitar
dinosaurus ungu itu.
Ajaib!
Keren, itu sangat mudah, aku juga bisa! Pikir Anna lalu melanjutkan
perjalanannya memulung.
Anna
berjalan senang hati, ada harapan baru dalam dirinya hari ini. Anna jadi tak
sabar menunggu malam tiba. Sepanjang hari Anna terus membayangkan banyak hal
yang akan ia minta.
Anna
membayangkan dirinya mendapat banyak kardus besar bagus yang tiba-tiba memenuhi
karungnya, lalu membawanya ke pengepul dan mendapat pujian dari Ibu Madura.
Anna tidak bermaksud rasis, semua orang memanggil juragan pengepul rosok seperti
itu sejak awal.
Anna
kembali terdiam lalu kembali memikirkan yang lain, ia harus punya mimpi besar.
Ah! Sekarung penuh gelas plastik dan beberapa alumunium bekas. Pasti ia akan
dapat pujian lebih lagi dan mungkin juga dengan roti dan susu saset. Ini mimpi
besar yang harus disampaikan pada bintang jatuh.
Anna
tersenyum sumringah sambil mengorek sampah didekat gerai es krim. Tapi tak berapa
lama ia melihat seorang gadis kecil yang tantrum menangis karena es krim yang
ia inginkan tidak sesuai. Anna memperhatikannya lalu memperhatikan eskrim yang disodorkan
ibunya yang terus ia tolak.
Anna mau es
krim itu juga. Bahkan hanya sisanya yang menempel di sendok dan gelasnya saja
tidak papa. Kira-kira berapa banyak kardus yang perlu ia kumpulkan untuk membeli
es krim? Anna mulai coba menghitung, tapi Anna baru bisa menghitung sampai sepuluh.
Mungkin perlu dua puluh agar bisa beli es krim. Lama. Ah! Ada bintang jatuh! Nanti
malam Anna akan memintanya pada bintang jatuh!
Sekarang Anna
punya mimpi baru yang lebih besar dari sekedar kardus dan gelas plastik atau alumunium
bekas. Anna kembali memasukkan beberapa sampah yang bisa ia temukan disana. Ada
kertas brosur, Anna memasukkannya juga kedalam karungnya lalu berjalan dengan perasaan
yang semakin berbunga-bunga. Anna membayangkan nanti malam memohon pada bintang
jatuh lalu paginya ia akan mendapatkan eskrim!
Anna yakin
permintaannya nanti malam adalah eskrim dan ia tidak akan berubah pikiran lagi.
tapi begitu Anna sampai ditempat Ibu Madura ia melihat sepasang sepatu balet
berwarna merah canti. Kaos kaki dengan renda itu juga cantik. Anna terus
memandanginya begitu lama lalu mulai membayangkan kalau ia memakainya. Pasti bagus
juga.
“Heh! Gak
usah liat-liat! Mau curi, ya?!” bentak Ibu
Madura begitu galak pada Anna yang ada didepannya bersiap menimbang rosokan
yang berhasil ia kumpulkan dari pagi hingga sore ini.
Ibu Madura
melemparkan tujuh keping uang lima ratusan pada Anna sedikit jauh. “Itu ambil!”
ucapnya sembari mengibaskan tangannya mengusir Anna.
Anna
berlari memunguti uangnya. Lalu memasukkannya kedalam saku celananya dan
berjalan pulang sembari kembali memulung. Anna terdiam didepan sebuah gedung
besar yang sedang sibuk dengan pohon cemara. Ada banyak sampah didepannya dan
beberapa makanan yang dibuang disana juga. Masih layak! Masih ada bungkusnya! Ini
harta karun!
Anna
langsung memasukkannya ke karungnya. Beberapa orang keluar dari gedung itu. Beberapa
melangkah dengan terburu-buru, beberapa lainnya berjalan santai. Tapi satu yang
Anna perhatikan, semua memakai sepatu. Cantik. Anna mulai menundukkan
pandangannya melihat sandalnya yang sudah usang, berdebu dan tipis di bagian
tumitnya.
Anna merevisi
harapannya kembali. Bukan pada kardus, bukan pada gelas plastik dan alumunium,
bukan juga pada eskrim, tapi sepatu. Anna ingin punya sepatu yang bagus juga. Sesekali
Anna ingin jadi cantik juga.
Oke sekarang
Anna sudah yakin Anna akan minta sepatu pada bintang jatuh. Anna berjalan
pulang lalu menyempatkan diri untuk ke warung membeli obat sakit kepala yang
biasa ibunya minta. Uangnya sisa dua koin sekarang. Tapi Anna sudah dapat
beberapa makanan jadi tak masalah.
“Ibu… aku
pulang!” seru Anna dengan ceria.
Ibu tidak
menyaut dan masih tertidur di lantai dengan selimut yang menutupi kaki hingga
pinggangnya. Meringkuk di dekat tembok beralaskan kasur palembang yang sudah
entah berapa kali di tambal itu.
Anna mengambil
piring lalu menyajikan apa yang ia dapat dari tempat sampah tadi.
“Aku dapat
makan, Ibu makan, terus nanti minum obat ya…” ucap Anna sembari memeluk Ibunya
sebentar. “Ibu sudah dingin, tidak demam lagi,” polosnya sembari berdiri
bersiap mandi sendiri dan mengurus dirinya sendiri.
Anna
kembali duduk di dekat ibunya. Sesekali bersandar dan memeluknya atau
memperbaiki selimutnya. Tapi Ibu tidak bergerak dan Anna tetap bercerita
seperti biasanya. Menceritakan soal apa yang ia tonton pagi tadi, soal
dinosaurus ungu dan kisah bintang jatuhnya, soal kegalauannya ingin meminta apa
pada bintang jatuh nanti.
“Enaknya
minta kerdus, botol plastik, alumunium, eskrim, apa sepatu aja ya, Bu?” pertanyaan
itu meluncur begitu polos tanpa mendapat jawaban sepatah katapun.
Anna
menyalakan lampu seperti biasa. Ibunya masih tak bergerak. Anna kembali memeluk
ibunya lalu mendekatkan jarinya pada hidung Ibunya, tangannya yang lain
didekatkan ke hidungnya sendiri. Tidak ada udara yang terhembus. Anna
mengerutkan keningnya, rasa takut dan panik mulai menyelimuti hati kecilnya.
“Ibu! Ibu
bangun Ibu!” kini Anna mulai menjerit dan mengguncang-guncang tubuh ibunya
dengan begitu panik. “Ibu bangun Ibu!” jeritnya yang kini mulai menangis.
Tak ada
yang datang, tak ada orang yang bisa menolongnya. Anna berlari keluar. Gang di
rumahnya sudah sepi sudah malam. Anna tak tau kapan ayahnya pulang. Anna terus
menangis dan berteriak memanggil Ayah dan Ibu bergantian dengan panik.
“Kenapa
lu?! Udah malem nangis-nangis! Persis kek Emak lu! Cengeng! Berisik! Gua gampar
kayak emak lu berabe lu!” bentak ayahnya yang akhirnya pulang sembari menampar
dan membungkam mulut Anna.
“Ibu tidak
bangun Ayah…” ucap Anna dengan nafas tersengal.
“Ya biarin!”
responnya acuh tak acuh.
Anna
memeluk Ibunya sembari membungkam mulutnya sendiri berusaha berhenti menangis. “Ibu
bangun Ibu!” rengek Anna pelan.
“Sarti!
Kopi mana?!” teriak Ayah Anna setelah kedapur dan tak mendapati apapun disana
lalu kembali mendekat pada Anna dan Ibunya lalu meluapkan emosinya mencambuk
dengan membabi buta pada tubuh Ibu yang sudah dingin dan kaku itu.
Anna sempat
ikut terkena cambukan dari gesper ayahnya itu. Anna sudah kewalahan harus
melindungi tubuh ibunya bagaimana lagi jadi ia berlari keluar.
“Bintang
jatuh! Tolong keluar bintang jatuh…aku tidak minta kardus lagi…aku…aku tidak
minta botol plastik…aku tidak minta eskrim…aku tidak minta sepatu…aku janji
cuma minta Ibu bangun lagi…tolong aku bintang jatuh!” rengek Anna sembari
berlari ke tanah lapang agar bisa mengamati langit.
Beberapa kali
ia mendengar suara ledakan, suara klakson, suara tikus yang di terkam kucing,
suara desahan di gang kumuh tempatnya tinggal. Anna terus berjalan sesekali
berlari. Sampai ia melihat ada sebuah titik cahaya yang menembus langit.
Anna
berlari menuju arah cahaya itu. Berlari dengan cepat tanpa ia tau titik cahaya
yang menembus langit itu meledak jadi kembang api. Anna terus berlari dengan
yakin hingga berhenti di depan gedung besar dengan pohon cemara yang kini sudah
penuh hiasan itu.
“Bintang
jatuh…” Anna yakin dari sana asalnya. Tapi Anna hanya melihat sekumpulan anak
muda yang sedang menyalakan kembang api.

