0
Home  ›  Chapter  ›  Sister Complex

Bab 09 – Is The Best Day Ever

Bab 09 – Is The Best Day Ever-1

Aji menghela nafas panjang lalu masuk ke kamarnya setelah menemani Ahmad tidur, sementara Alif masih sedih karena merasa di benci keluarga papanya hingga terlelap dengan bekas air mata di pipinya. Nana jelas pasti marah padanya. Kalau tidak begitu Nana pasti tengah berdiam diri dan menangis dalam diam.

"Na..." Aji mendekati Nana yang duduk bersandar di tempat tidur.

"Alif itu anakmu juga, Ahmad juga gitu... " Nana mulai menyampaikan kesedihannya.

"Iya sayang...aku paham..." Aji mendekap Nana yang menatapnya penuh amarah.

"Kalo paham, kenapa Alif di perlakukan berbeda dari Ahmad? Dari Ken? Dari anak-anaknya kakakmu?!" cerca Nana.

"Yang gitu kan eyang, mamaku enggak..."

"Papa, eyang... Kenapa jadi membedakan Alif sama Ahmad hanya karena kelahirannya sebelum dan sesudah nikah?! Padahal dua-duanya dari ibu yang sama!"

Aji hanya diam tertunduk sambil menggenggam tangan Nana.

"Alif sama Ahmad aku yang hamil, aku yang melahirkan. Dua duanya juga kamu yang bikin hamil! Bisa-bisanya ada istilah anak haram, anaknya Nana anaknya Aji, anggota keluarga asli sama tambahan. Gak kasian kamu mas liat Alif di diskriminasi eyangmu itu?! " geram Nana lalu menampik tangan Aji.

Aji hanya mendesah pelan bingung harus memperbaiki masalah dari mana. Ini semua jelas bukan muncul darinya. Ini semua dari Eyang dan Broto yang membeda-bedakan.

"Kalo Alif di bilang anak haram, kenapa Ken tidak? Adikmu juga hamil duluan! Kenapa cuma anakku yang di maki-maki?! Karena aku orang kere? Bukan dari keluarga kelas atas?" cerca Nana tiada henti.

"Enggak gitu Na... Insyaallah maksud Eyang sama papa ga gitu..." Aji berusaha mengajak Nana agar tetap berkhusnudzon.

"Terserah!" ketus Nana lalu merebahkan tubuhnya di balik selimut sambil memunggungi Aji.

Tak mau istrinya makin marah Aji langsung memeluk Nana. "Dek, aku juga bingung kenapa eyang sama papa jadi gini ke Alif... Dulu kan kamu tau Alif juga di sayang sama kayak Ken, ga ada pembedaan..." bujuk Aji sambil menciumi bahu istrinya. Nana hanya mengedikkan bahunya lalu memaksakan dirinya untuk tidur.

●●●

Pagi-pagi Nana sudah sibuk memasakkan bekal dan sarapan untuk anak-anaknya. Aji juga sibuk membantu anak-anaknya bersiap sekolah. Alif sudah tampak ceria seperti biasanya Angela juga ceria dan Ahmad masih saja memancing Angela untuk banyak bicara. Ahmad benar-benar senang Angela mau menanggapinya bicara meskipun sedikit. Setelah semalam sempat ngambek pada suaminya, Nana juga sudah akur kembali.

"Nanti kita beli mukena ya buat Angela..." ajak Nana pada Angela sambil mengambilkan sarapan untuk Aji.

"Aku juga mau ikut..." pinta Ahmad.

"Adek sekolah, nanti mama beliin sarung baru deh, kakak juga. Angela kan ga punya mukena nanti kalo solat gimana?"

Ahmad cemberut mendengar penjelasan mamanya.

"Nanti kalo Angela ga punya mukena ga bisa solat, ga bisa solat ga dapat pahala, ga dapat pahala ga masuk surga... "

Baca juga 29. Vol. 3 : Chapter 12

"Jadi ke neraka," Ahmad melanjutkan ucapan mamanya.

"Neraka itu apa? " tanya Angela.

"Neraka itu tempat orang yang tidak solat, suka marah-marah, suka pukul-pukul, suka jahat sama anak kecil, suka bentak-bentak, pokoknya tempat orang jahat deh... Ya kan kak?" jelas Ahmad sambil meminta penguatan dari kakaknya.

"Iya, jadi kita harus rajin solat, beribadah, berdoa, sabar, tidak marah-marah, baik. Biar di sayang Allah... Nanti kita masuk surga," Alif ikut menjelaskan pada Angela.

"Allah?" tanya Angela lagi.

"Allah itu yang punya semua yang ada di dunia ini! Seluruh dunia, semuanya punya Allah!" jelas Ahmad antusias sambil melebarkan tangannya.

Angela mengangguk paham sambil berusaha mencerna yang di ucapkan Ahmad dan Alif.

"Jejela, Allah itu maha penyayang. Dia itu sayang sama kita semua, jadi kalo Jejela sedih, Jejela mau apapun Jejela minta aja sama Allah. Nanti di kasih!" ucap Ahmad sambil menyuapkan nasi ke mulutnya dengan hati-hati.

"Sayang Angela juga?" tanya Angela ragu.

"Iya dong, sayang Angela. Mama aja sayang Angela masa Allah ga sayang..." ucap Nana lalu mengambilkan minum.

Angela tersenyum sumringah. Angela begitu berbunga-bunga mendengar cerita kalau Allah sangat kaya dan memiliki segalanya juga menyayanginya. Baru kali ini Angela tau kalau ia banyak yang menyayangi. Angela jadi tidak sabar bertemu Allah yang maha kaya dan menyayanginya itu.

Setelah Alif, Ahmad dan Aji berangkat. Nana meminta Angela untuk bersiap-siap setelah memesan taxi online. Nana juga mengobati luka-luka Angela sebelum nanti cek up juga.

"Mbak Ica..." gumam Angela tanpa sadar menyebut nama pengasuhnya.

"Angela kenapa?" tanya Nana lalu menghentikan aktivitasnya sejenak menunggu Angela melanjutkan ucapannya.

"Mbak Ica masuk neraka..." lanjut Angela sambil menatap Nana sedih.

"Mbak Ica siapa?" tanya Nana bingung.

Baca juga 28. Vol.3 : Chapter 11

Angela langsung buru-buru menutup pintu kamarnya dan duduk di depan pintu menahannya agar tidak terbuka dengan panik. Nana heran dengan apa yang di lakukan Angela, dengan hati-hati Nana ikut duduk di samping Angela setelah mengunci kamar Angela agar ia merasa lebih aman.

"Mbak Ica siapa?" tanya Nana lagi sambil berbisik.

Angela langsung menangis sambil memeluk kakinya yang di tekuk. Nana langsung paham bila Angela di buat tramuma dengan Mbak Ica itu.

"Mbak Ica jahat sama Angela?" tanya Nana yang dengan cepat di angguki Angela.

Angela langsung bangun dan menunjukkan bekas luka dan memar di tubuhnya sambil mempraktekkan cara Ica mencubit tubuhnya tanpa bisa berkata-kata. Tak lama Angela bangun lalu memukul-mukul tempat tidur dan berteriak dengan tertahan.

"Anak nakal!" ucap Angela lalu mulai menangis sambil memukul-mukul tempat tidur sambil menendang-nendang terus dengan histeris. Tak lama Angela mulai menjambak rambutnya lalu menarik-nariknya dan bersiap menghantarkan kepalanya ke lemari.

Tapi belum terhantam, Nana langsung memeluk erat Angela dan menggendongnya. "Sudah... Tidak ada orang yang jahat ke Angela... " ucap Nana paham lalu menidurkan Angela yang masih histeris. "Liat mama! " bentak Nana yang membuat Angela kaget dan jadi lebih fokus menatapnya. "Angela sudah aman, mama Nana sayang sama Angela... Cup... Tidak usah menangis lagi ya... " ucap Nana berusaha menenangkan Angela.

Angela langsung mengangguk dengan cepat lalu membungkam mulutnya sambil menangis.

Nana menarik tangan Angela yang membungkam mulutnya sendiri. "Tidak papa, Angela boleh menangis keras-keras sampai Angela lega... Mama temanin sampai Angela tenang... " ucap Nana lembut lalu mendekap Angela.

Angela mulai menangis dengan bersuara, hingga nafasnya tersengal-sengal. Nana terus memeluknya sambil mengelus punggungnya dengan lembut. Nana merasa sangat iba pada Angela yang begitu banyak mengami kekerasan. Nana tak bisa membayangkan semenyeramkan apa yang di lakukan Mbak Ica pada Angela sampai Angela seperti ini.

"Mbak Na... Buk... Ibuk... " panggil mbak Rin yang sudah datang untuk membantu Nana beres-beres hari ini.

"Iya? " saut Nana dari kamar Angela. "Mama ketemu mbak Rin bentar ya... " pinta Nana pada Angela. Angela langsung menggeleng. "Yaudah sama Angela ya... " putus Nana yang di setujui Angela.

Angela langsung turun dari tempat tidur lalu bersama Nana keluar kamar sambil memegangi baju Nana.

"Mbak Nanti masak Nasi sama gorengin ikan asin di tepungin ya. Aku sama Angela mau keluar sebentar. Nanti jagain rumah dulu ya sampe Alif pulang," perintah Nana.

"Iya buk... " jawab mbak Rin patuh.

"Oh iya mbak, nanti bapakku mau kesini..." ucap Nana lagi lalu menggandeng Angela ke kamarnya.

"Buk tadi kenapa kok suara nangis keras sekali? " tanya mbak Rin kepo.

"Ini Angela lagi sedih... " jawab Nana santai. Mbak Rin hanya beroh ria lalu mulai membersihkan rumah.

●●●

Setelah mengunci kamarnya Nana pergi bersama Angela naik Taxi online yang ia pesan. Angela terus menggenggam tangan Nana sepanjang perjalanan. Begitu sampai rumah sakit dan mengambil nomor antrian Angela tetap memilih duduk bersama Nana dari pada menunggu sambil bermain di play ground. Meskipun Nana juga mau menemaninya bermain di play ground.

"Mau susu kedelai gak?" tanya Nana saat melihat pedagang asongan masuk ke ruang tunggu rumah sakit. Angela langsung menggeleng. "Yasudah gapapa," ucap Nana lalu merangkul Angela.

"Habis ini kita naik bus, kita ke toko baju muslim," ucap Nana memberi tau rute perjalanannya nanti. Angela tersenyum sambil mengangguk senang.

Angela merasa sangat lega, seperti beban di dada dan punggungnya hilang begitu saja setelah menangis tadi. Angela merasa bebas dan seperti banyak bunga bermekaran juga kupu-kupu berterbangan di perutnya. Angela sangat bahagia. Is the best day ever.

"Anak Angela..." panggil suara pengeras memanggil Angela. Nana dan Angela langsung berjalan masuk ke ruang periksa. [Next]

Bab 09 – Is The Best Day Ever-2


31
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share