0
Home  ›  Chapter  ›  My Little Wife

Bab 7 : Cintaku Kandas

 Bab 7 : Cintaku Kandas-1

Tak ada hal yang lebih buruk daripada menerima berita soal pernikahan Rangga yang begitu mendadak. Rasanya Cika tak mau pulang ke Indonesia dan ingin langsung menetap di Amsterdam saja. Berita soal pernikahan Rangga dan Layla yang begitu mendadak baginya benar-benar membuatnya merasa terpukul. Hubungan yang sudah mereka bina selama bertahun-tahun, kandas begitu saja.

Bahkan kandasnyapun tanpa ada kata perpisahan sebelumnya. Cika tertawa pelan di tengah tanggisnya, menertawakan kondisinya, nasip kisah asmaranya yang hancur dan di tinggalkan begitu saja di usianya yang sudah sematang ini. Di usianya yang seharusnya sudah menjadi ibu tapi malah dibuang begitu saja.

Memang cinta bukan soal menang kalah, jodoh tak bisa dipaksakan. Tapi rasanya kalah dari wanita yang jauh lebih muda darinya dan bahkan baru di kenal Rangga beberapa hari saja sudah bisa langsung di nikahi tanpa ada keraguan. Sementara dirinya…Cika benar-benar mengkasihani dirinya sendiri. Ucapan bila wanita semakin lama akan terasa seperti susu tua yang basi dan pria semakin lama akan terasa seperti wine yang makin mahal seiring usianya, terasa semakin nyata sekarang.

“Kak…” panggil Hans setelah hampir semua orang di pesawat sudah turun dan tinggal Cika yang masih merenung di bangku kelas bisnisnya.

Cika masih diam, airmatanya masih berlinangan dalam tangisnya. “Lo duluan aja kalo mau duluan,” ucap Cika mengusir Hans karena enggan di pandang menyedihkan atau melihat pandangan kasihan dari pria yang jauh lebih muda darinya itu.

“Kalo aku turun duluan, emang kamu mau ngadepin wartawan sendirian? Di todong kamera, di tanya-tanya sendiri? Ayolah, biar kali ini aja, kita turun bareng. Pulang, habis itu udah kamu bisa tenangin diri. Emang mau sampe kapan didalem pesawat? Ga bisa selamanya juga disini,” bujuk Hans pada akhirnya yang meluluhkan Cika.

Benar, ia tak bisa selamanya didalam pesawat. Kalaupun ia ingin sembunyi setidaknya tidak didalam pesawat juga. Keluar bersama Hans dan tim yang lain adalah pilihan terbaik saat ini, setidaknya ia tak sendirian. Tidak seperti dulu saat skandalnya mencuat dan ia harus menghadapinya seorang diri.

“Ayo nanti aku temenin,” bujuk Hans sekali lagi sembari mengulurkan tangannya.

Tapi bukan meraih uluran tangan Hans, Cika malah memeluknya. Hans sedikit terkejut, tapi ia membalas pelukan Cika. Mengelus punggungnya, membiarkannya menangis dalam pelukannya. Hans tak pernah ada dalam posisi seperti yang Cika alami saat ini. Tapi yang jelas Hans tau betapa besar perasaan Cika pada Rangga dan malah kandas begitu saja setelah hanya tak berkomunikasi beberapa saat saja.

Baca juga 29. Vol. 3 : Chapter 12

Tak ada juga yang menyangka jika pulang kerja akan mendapat kabar jika kekasihnya sudah menikah. Tak satupun orang yang mau merasakannya. Hangat lalu dingin, diam lalu asing dan pergi membangun rumah tangganya sendiri. Meninggalkan yang lain dengan perasaan penuh penghakiman pada diri sendiri dengan sangat egois.

“Aku salah apa? Kurangku dimana kok bisa-bisanya setega ini…” lirih Cika yang akhirnya jujur pada perasaannya.

Hans hanya diam, semua kata penyemangat dan validasi sudah diberikan semua orang padanya. Hans tak tau harus berkata apa, tapi yang jelas sisi rapuh Cika ini Hans ingin menutupinya. Hans ingin melindungi Cika. Rasanya seperti Hans siap menjadi cangkang kerang jika Cika menginginkannya.

***

Rangga menikmati harinya bersama Layla. Memang semalam belum sempat bercinta dengannya. Mereka masih mencoba mengenal satu sama lain, mengobrol dan saling menyentuh. Begitu berbeda dengan Cika yang dibanjiri wartawan, Rangga tengah asik dirumahnya bersama istrinya yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan keluarganya.

“Dek…” panggil Rangga setelah merasa Layla sudah cukup lama bersama dengan ibunya juga keluarganya yang lain. Rangga juga ingin menghabiskan waktu bersamanya terlebih ini masih bulan madunya.

Layla menoleh kebelakang melihat Rangga yang sudah berdiri di belakangnya sembari mengelus bahunya. Layla hanya bisa tersipu malu sementara Rangga di buat gemas karena tingkahnya. Orang-orang yang melihat malu-malunya Layla terhadap suaminya juga dibuat ikut gemas dan merasa bersyukur karena Rangga terhindar dari Cika.

“Ayo…” ajak Rangga berbisik mengajak Layla ke kamar.

Baca juga 28. Vol.3 : Chapter 11

Keluarga Rangga yang melihat betapa serasinya Rangga dan Layla terus membicarakan dan mulai membandingkan. Bahkan beberapa mulai mencari kesalahan Cika meskipun Cika tak pernah berbuat salah pada keluarga Rangga sebelumnya. Lebih lagi mereka juga menonton berita infotaimen soal Cika yang baru pulang dari Amsterdam setelah syuting filmnya dan langsung di berondong pertanyaan dari para wartawan dan hanya bisa tersenyum sambil terus melangkah dengan kacamata hitam yang terus ia kenakan.

“Alhamdulillah Rangga ga ngotot sama cewek kayak gini, baguslah udah kandas langsung move on sama si Layla. Udah cantik, kalem, masih polos,” pujian untuk Layla yang dibandingkan dengan Cika terus menggema.

Tak satupun keluarga Rangga yang ingin berbelas hati mengkasihani Cika. Jangankan berbelas hati sampai mengkasihani, semua malah menghujatnya dan menghinanya tanpa berbelas kasihan. Rangga juga tampaknya tak mau banyak berkomentar apalagi berurusan dengan Cika lagi. Entah apa yang ada dipikirannya bisa dengan mudahnya mencampakan Cika yang bahkan belum resmi kandas dengannya.

Membiarkan kekasihnya yang rapuh dan Rangga tau jelas bagaimana kelemahannya itu menghadapi masalah yang ia timbulkan sendirian. Membiarkan Cika dikejar wartawan yang jelas tak mungkin berani menyentuhnya. Membiarkan Cika menghadapi pertanyaan kemungkinan kembali dengan mantannya yang terlibat skandal dengannya dulu. Membiarkan Cika masuk kedalam portal berita gosip setelah selama ini hanya ada pemberitaan soal prestasinya di media. Merenggut ketanangannya.

“Ini dapet hadiah lagi?” tanya Rangga yang melihat banyaknya kado susulan untuk istrinya.

Layla mengangguk sambil tersenyum malu-malu. “I-iya, mungkin yang ini kadonya buat Mas,” ucap Layla sembari duduk di tempat tidur bersiap membuka isi kado kali ini.

“Dah lah, Mas ga dapet kado juga gapapa. Liat kamu happy unboxing kado udah ikut seneng,” ucap Rangga sembari mulai berpikir jika ia akan mulai rajin memberi kejutan pada Layla agar istrinya terus ceria seperti sekarang.

“Woah!” seru Layla yang melihat lingerie dan piama sexy yang menjadi kadonya kali ini.

Wajahnya langsung merona malu membayangkan dirinya memakai pakaian sesexy itu. Sementara Rangga terlihat penuh senyum begitu puas dengan segala kado yang diberikan untuk istrinya. Khusus kado kali ini rasanya bukan diperuntukkan untuk Layla tapi untuk Rangga hanya saja berkedok kado untuk istrinya.

“Pakek ya, habis ini. Aku pengen liat, aku pengen kamu…” pinta Rangga sembari mengecup bibir Layla dengan lembut.

Layla hanya bisa diam sambil mengangguk. Ini memalukan, tapi ia sudah menjadi istri. “Aku coba ya…” ucap Layla lalu terdiam sejenak. “M-mas mau aku pakek yang mana?” tanya Layla malu-malu.

“Ini…” tanpa ragu Rangga menunjuk lingerie berwarna merah berbahan satin sutra yang hampir transparan untuk dikenakan Layla.

Layla mengambilnya lalu melangkah ke kamar mandi untuk bersiap.


8
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share