Bab 7 : Cintaku Kandas
Tak ada hal
yang lebih buruk daripada menerima berita soal pernikahan Rangga yang begitu
mendadak. Rasanya Cika tak mau pulang ke Indonesia dan ingin langsung menetap
di Amsterdam saja. Berita soal pernikahan Rangga dan Layla yang begitu mendadak
baginya benar-benar membuatnya merasa terpukul. Hubungan yang sudah mereka bina
selama bertahun-tahun, kandas begitu saja.
Bahkan
kandasnyapun tanpa ada kata perpisahan sebelumnya. Cika tertawa pelan di tengah
tanggisnya, menertawakan kondisinya, nasip kisah asmaranya yang hancur dan di
tinggalkan begitu saja di usianya yang sudah sematang ini. Di usianya yang
seharusnya sudah menjadi ibu tapi malah dibuang begitu saja.
Memang
cinta bukan soal menang kalah, jodoh tak bisa dipaksakan. Tapi rasanya kalah
dari wanita yang jauh lebih muda darinya dan bahkan baru di kenal Rangga
beberapa hari saja sudah bisa langsung di nikahi tanpa ada keraguan. Sementara
dirinya…Cika benar-benar mengkasihani dirinya sendiri. Ucapan bila wanita
semakin lama akan terasa seperti susu tua yang basi dan pria semakin lama akan
terasa seperti wine yang makin mahal seiring usianya, terasa semakin nyata
sekarang.
“Kak…”
panggil Hans setelah hampir semua orang di pesawat sudah turun dan tinggal Cika
yang masih merenung di bangku kelas bisnisnya.
Cika masih
diam, airmatanya masih berlinangan dalam tangisnya. “Lo duluan aja kalo mau
duluan,” ucap Cika mengusir Hans karena enggan di pandang menyedihkan atau
melihat pandangan kasihan dari pria yang jauh lebih muda darinya itu.
“Kalo aku
turun duluan, emang kamu mau ngadepin wartawan sendirian? Di todong kamera, di
tanya-tanya sendiri? Ayolah, biar kali ini aja, kita turun bareng. Pulang,
habis itu udah kamu bisa tenangin diri. Emang mau sampe kapan didalem pesawat?
Ga bisa selamanya juga disini,” bujuk Hans pada akhirnya yang meluluhkan Cika.
Benar, ia
tak bisa selamanya didalam pesawat. Kalaupun ia ingin sembunyi setidaknya tidak
didalam pesawat juga. Keluar bersama Hans dan tim yang lain adalah pilihan
terbaik saat ini, setidaknya ia tak sendirian. Tidak seperti dulu saat
skandalnya mencuat dan ia harus menghadapinya seorang diri.
“Ayo nanti
aku temenin,” bujuk Hans sekali lagi sembari mengulurkan tangannya.
Tapi bukan
meraih uluran tangan Hans, Cika malah memeluknya. Hans sedikit terkejut, tapi
ia membalas pelukan Cika. Mengelus punggungnya, membiarkannya menangis dalam
pelukannya. Hans tak pernah ada dalam posisi seperti yang Cika alami saat ini.
Tapi yang jelas Hans tau betapa besar perasaan Cika pada Rangga dan malah
kandas begitu saja setelah hanya tak berkomunikasi beberapa saat saja.
Tak ada
juga yang menyangka jika pulang kerja akan mendapat kabar jika kekasihnya sudah
menikah. Tak satupun orang yang mau merasakannya. Hangat lalu dingin, diam lalu
asing dan pergi membangun rumah tangganya sendiri. Meninggalkan yang lain
dengan perasaan penuh penghakiman pada diri sendiri dengan sangat egois.
“Aku salah
apa? Kurangku dimana kok bisa-bisanya setega ini…” lirih Cika yang akhirnya
jujur pada perasaannya.
Hans hanya
diam, semua kata penyemangat dan validasi sudah diberikan semua orang padanya.
Hans tak tau harus berkata apa, tapi yang jelas sisi rapuh Cika ini Hans ingin
menutupinya. Hans ingin melindungi Cika. Rasanya seperti Hans siap menjadi
cangkang kerang jika Cika menginginkannya.
***
Rangga
menikmati harinya bersama Layla. Memang semalam belum sempat bercinta
dengannya. Mereka masih mencoba mengenal satu sama lain, mengobrol dan saling
menyentuh. Begitu berbeda dengan Cika yang dibanjiri wartawan, Rangga tengah
asik dirumahnya bersama istrinya yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan
keluarganya.
“Dek…”
panggil Rangga setelah merasa Layla sudah cukup lama bersama dengan ibunya juga
keluarganya yang lain. Rangga juga ingin menghabiskan waktu bersamanya terlebih
ini masih bulan madunya.
Layla
menoleh kebelakang melihat Rangga yang sudah berdiri di belakangnya sembari
mengelus bahunya. Layla hanya bisa tersipu malu sementara Rangga di buat gemas
karena tingkahnya. Orang-orang yang melihat malu-malunya Layla terhadap
suaminya juga dibuat ikut gemas dan merasa bersyukur karena Rangga terhindar
dari Cika.
“Ayo…” ajak
Rangga berbisik mengajak Layla ke kamar.
Keluarga
Rangga yang melihat betapa serasinya Rangga dan Layla terus membicarakan dan
mulai membandingkan. Bahkan beberapa mulai mencari kesalahan Cika meskipun Cika
tak pernah berbuat salah pada keluarga Rangga sebelumnya. Lebih lagi mereka
juga menonton berita infotaimen soal Cika yang baru pulang dari Amsterdam
setelah syuting filmnya dan langsung di berondong pertanyaan dari para wartawan
dan hanya bisa tersenyum sambil terus melangkah dengan kacamata hitam yang
terus ia kenakan.
“Alhamdulillah
Rangga ga ngotot sama cewek kayak gini, baguslah udah kandas langsung move
on sama si Layla. Udah cantik, kalem, masih polos,” pujian untuk Layla yang
dibandingkan dengan Cika terus menggema.
Tak satupun
keluarga Rangga yang ingin berbelas hati mengkasihani Cika. Jangankan berbelas
hati sampai mengkasihani, semua malah menghujatnya dan menghinanya tanpa
berbelas kasihan. Rangga juga tampaknya tak mau banyak berkomentar apalagi
berurusan dengan Cika lagi. Entah apa yang ada dipikirannya bisa dengan
mudahnya mencampakan Cika yang bahkan belum resmi kandas dengannya.
Membiarkan
kekasihnya yang rapuh dan Rangga tau jelas bagaimana kelemahannya itu
menghadapi masalah yang ia timbulkan sendirian. Membiarkan Cika dikejar
wartawan yang jelas tak mungkin berani menyentuhnya. Membiarkan Cika menghadapi
pertanyaan kemungkinan kembali dengan mantannya yang terlibat skandal dengannya
dulu. Membiarkan Cika masuk kedalam portal berita gosip setelah selama ini
hanya ada pemberitaan soal prestasinya di media. Merenggut ketanangannya.
“Ini dapet
hadiah lagi?” tanya Rangga yang melihat banyaknya kado susulan untuk istrinya.
Layla
mengangguk sambil tersenyum malu-malu. “I-iya, mungkin yang ini kadonya buat
Mas,” ucap Layla sembari duduk di tempat tidur bersiap membuka isi kado kali
ini.
“Dah lah,
Mas ga dapet kado juga gapapa. Liat kamu happy unboxing kado udah
ikut seneng,” ucap Rangga sembari mulai berpikir jika ia akan mulai rajin
memberi kejutan pada Layla agar istrinya terus ceria seperti sekarang.
“Woah!”
seru Layla yang melihat lingerie dan piama sexy yang menjadi kadonya kali ini.
Wajahnya
langsung merona malu membayangkan dirinya memakai pakaian sesexy itu. Sementara
Rangga terlihat penuh senyum begitu puas dengan segala kado yang diberikan
untuk istrinya. Khusus kado kali ini rasanya bukan diperuntukkan untuk Layla
tapi untuk Rangga hanya saja berkedok kado untuk istrinya.
“Pakek ya,
habis ini. Aku pengen liat, aku pengen kamu…” pinta Rangga sembari mengecup
bibir Layla dengan lembut.
Layla hanya
bisa diam sambil mengangguk. Ini memalukan, tapi ia sudah menjadi istri. “Aku
coba ya…” ucap Layla lalu terdiam sejenak. “M-mas mau aku pakek yang mana?”
tanya Layla malu-malu.
“Ini…”
tanpa ragu Rangga menunjuk lingerie berwarna merah berbahan satin sutra yang
hampir transparan untuk dikenakan Layla.
Layla
mengambilnya lalu melangkah ke kamar mandi untuk bersiap.