Bab 6 : Istriku
Semakin
hari Cika semakin merasa jika Rangga meninggalkannya dengan begitu pengecut.
Hans memang mengisi kekosongannya, tapi rasanya masih tidak cukup. Hans memang
berusaha mengayominya. Tapi Cika menginginkan Rangga bukan Hans yang jauh lebih
muda darinya. Meskipun Hans menunjukkan kalau ia bisa diandalkan, rasanya tetap
saja Cika merasa jika ia sedang mengasuh.
Sudah
hampir dua minggu ia syuting dan tak ada banyak kabar dari Rangga. Sosmednya
juga hanya memposting makanan saja belakangan ini, seperti biasanya…seperti
kebiasaan Rangga dulu sebelum mengenalnya. Lebih tepatnya jika mereka tidak
bersama. Tak banyak kabar yang bisa ia lihat tapi paling tidak Cika tau jika
Rangga makan dengan baik dan teratur.
Syutingnya
masih kurang satu bagian lagi dan besok ia bisa berlibur sekaligus berfoto
untuk poster promosinya. Cika tak sabar menyelesaikan semuanya, sementara Hans
merasa sedih karena sebentar lagi berpisah dengan Cika.
“Yok!
Semangat! Semangat!” seru Cika dengan ceria padahal sebentar lagi harus
mengambil adegan sedih, memang penuh bakat.
***
Layla
mencoba memakai gaunnya setelah riasannya selesai. Persiapan pernikahan kali
ini memang terbilang cepat, meskipun semua terlihat indah dan sempurna. Mewah,
mahal, bahkan Layla tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya rasanya seperti
menjadi Cinderella meskipun ia hanya membayangkan acara walimah sederhana
dirumahnya saja.
Acara yang
seharusnya hanya keluarga saja jadi lebih mewah dan lebih meriah dari yang ia
bayangkan. Akad dan resepsi yang berlangsung lebih cepat dari lamaran yang
hanya memberi cincin. Berbeda dengan yang ia bayangkan. Tapi apapun itu Layla
rasa ini lebih baik daripada harus menunggu lama.
“Gak pakek
lamaran, kenal waktu makan malam keluarga, langsung beli cincin besoknya, di
tes banyak sama Abah, habis itu langsung nikah aja daripada kelamaan gitu
kurang lebih,” ucap Rian yang jadi sasaran awak media atas pernikahan Rangga
dan Layla karena keduanya enggan berurusan dengan awak media.
Rangga dan
Layla juga langsung pergi setelah acara selesai. Rangga ingin mengajak Layla
bulan madu sekaligus menunjukkan tempat tinggalnya di Singapura setelah resmi
menjadi istrinya. Rangga tak mau peduli dengan pemberitaan soalnya dan Cika
yang akan selalu di sangkut pautkan dengannya. Rangga tak mau urusan Cika akan
mengganggu rumah tangganya dan mengganggu istrinya juga.
“Kayaknya
bakal viral…” gumam Rangga sembari melihat banyaknya awak media dan ramainya
sosial medianya.
Layla ikut
menoleh keluar lalu mengangguk. “Aku harus apa Mas?” tanya Layla yang jadi
bingung dan takut jika segala tindakannya kini makin jadi konsumsi publik.
“Harus
cuekin aja, harus ga peduliin aja,” jawab Rangga santai sambil tersenyum dan
menggenggam tangan Layla dan mengecup punggung tangannya lembut.
Layla cukup
kaget dengan cara Rangga menyentuhnya. Ini kali pertamanya disentuh pria lain
selain keluarganya sendiri. Cara rangga menyentuhnya yang begitu berani dan
begitu lembut membuatnya begitu berdebar.
“Mas…”
tegur Layla pelan yang masih malu-malu kucing saat bersama Rangga.
Rangga
tersenyum melihat reaksi Layla lalu hanya menggenggam tangannya saja. Tangan
kecil yang lentik, lembut, hangat, sedikit lembab karena gugup, wangi. Sensasi
yang sudah biasa bagi Rangga sebenarnya, tapi sensasi itu pula yang sudah lama
ia tunggu dari Layla.
“Aku laper,
tadi belum sempet makan,” ucap Layla sembari melihat keluar jendela yang
melewati bazar makanan malam hari, mirip seperti pasar malam.
“Nanti di
hotel makan,” ucap Rangga yang sama laparnya dengan Layla. “Pokoknya hari ini
perdana jadi istri, kamu mau apa aku turutin,” lanjutnya yang membuat Layla
semakin tersipu dan berbunga-bunga dan hanya bisa mengangguk dengan malu-malu
kucing. Selalu begitu reaksi menggemaskan yang Layla tunjukkan.
“Oh iya
Mas, aku mau tanya. Tapi jangan tersinggung ya,” ucap Layla yang malah membuat
Rangga deg-degan tapi tetap mengangguk mempersilahkannya bertanya. “Hubunganmu
sama Kak Cika itu gimana?” tanya Layla sembari menatap wajah Rangga.
“Em…”
Rangga mengangguk. “Udah putus, kita emang pacaran lama. Tapi gak direstui sama
sekali, habis itu kita ketemu dan aku suka, orang tuaku merestui yaudah nikah
aja,” jawab Rangga lalu tersenyum.
Layla
mengangguk lalu tersenyum, ia tak ingin mengorek lebih jauh lagi. Merasa cukup,
toh ia yang dinikahi Rangga. Kalaupun Rangga lebih menginginkan Cika harusnya
ia tak menikah dengannya.
“A-aku
nanti mau mandi besar dulu,” ucap Layla ragu dan langsung bersemu.
Rangga yang
paham kemana arah pembicaraan Layla juga langsung mengangguk dan ikut bersemu.
“Kamu udah prepare ya?” tanya Rangga yang di angguki Layla.
“Kata Abah
sama Ibu suruh prepare, jadi aku banyak belajar,” jawab Layla sembari memainkan
jarinya sendiri.
Rangga
terbahak-bahak mendengarnya. Ia tak menyangka Layla akan mempersiapkan
segalanya sematang itu. “Emang apa aja yang udah disiapin?” tanya Rangga.
Layla
langsung menepuk bahu Rangga pelan lalu tersipu malu karenanya. “C-cuma ngobrol
aja sama kakakku, abang, iparku, biasa…” jawab Layla lalu memberi kode jika
mereka tak hanya berdua di dalam mobil jadi tak bisa blak-blakan.
Rangga jadi
semakin tertawa karenanya. Istrinya benar-benar lucu dan menggemaskan, jauh
dari dugaannya selama ini. Rangga langsung mengecup pipinya dengan gemas untuk
menyalurkan perasaannya yang sudah lama ia tahan.
“Mas!”
pekik Layla.
“Pahala!”
balas Rangga yang menang telak begitu saja dan akhirnya tertawa bersama Layla.
Begitu
sampai di hotel Rangga sudah mendapati makanan yang disiapkan untuknya dan
Layla. Rangga juga langsung sibuk membantu Layla melepas kerudungnya yang di
hias sedemikian rupa sebelum akhirnya mandi duluan. Layla juga sibuk
membersihkan wajahnya sembari mengganti gaunnya dengan daster batik rumahan
tanpa lengan berpotongan rendah.
Layla
sedikit ragu sebenarnya tapi mengingat Rangga sudah jadi suaminya dan
pembicaraan soal pernikahan juga rumah tangga sebelumnya jadi ia memberanikan
diri.
“Mas, aku
makan duluan,” ucap Layla yang sudah tidak sabar.
“Iya!” saut
Rangga dari kamar mandi.
Layla mulai
mengikat rambut bergelombangnya dengan jepitan rambutnya memamerkan leher
putihnya, sebelum mulai makan menikmati makanan yang disajikan untuknya dengan
lahap. Layla sebenarnya malu jika harus tidur bersama dengan Rangga, jangankan
tidur bersama makan bersama dan diperhatikan Rangga saja sebenarnya sudah
membuatnya salah tingkah. Kalau saja ia belum menerima banyak wejangan mungkin
ia sudah kabur sekarang.
Rangga
terdiam memandangi pemandangan indah yang disuguhkan Layla. Tubuhnya yang indah
dan yap benar saja Layla lebih kurus dari penampilannya, pinggangnya yang
ramping, dadanya yang montok, pantatnya yang menggoda, kakinya yang mulus,
benar-benar sempurna.
“Mas, ini
makan. Aku ambilin…” ucap Layla yang langsung melayani Rangga.
“Kamu
cantik banget, sexy banget,” puji Rangga begitu saja yang membuat Layla malu.
Sebenarnya
memandang tubuh seindah ini bukan pengalaman pertama bagi Rangga, tapi
mendapati si pemilik tubuh hanya menyajikan keindahan itu padanya membuatnya
jadi merasa istimewa.
“Suka?”
tanya Layla yang jelas langsung di angguki Rangga. “Alhamdulillah, soalnya aku
baru kepikiran mau minta buat dimatiin lampunya. Aku gak pede,” ucap Layla yang
membuat Rangga tersenyum.
“Kenapa
dimatiin lampunya?”
“Malu lah,
gemuk gini kok,” jawab Layla lalu meletakkan makanan untuk Rangga.
Rangga
menggeleng pelan. “Bagiku udah bagus kok, jangan di kurusin. Aku suka kayak
gini aja. Ini malah bagiku udah kekurusan.”
Layla
tersenyum lalu mengangguk dan melanjutkan makannya bersama suaminya. “Pakek ini
Mas, cobain. Enak,” ucap Layla mengambilkan keripik yang ada di meja untuk
Rangga juga.
Dulu Cika
juga melayani Rangga, tapi rasanya berbeda ketika Layla melayaninya. Rangga tau
Cika tak melayani semua orang seperti saat ia melayaninya. Tapi kalo bersama
Layla jelas gadis itu hanya melayaninya saja. Hanya menunjukkan aurat
didepannya, hanya melayani seperti ini untuknya, hanya mencurahkan perhatian
untuknya dan Rangga menyukai itu.
“Mas, Mama
bilang pengen cepet punya cucu… tapi aku masih pengen pacaran dulu sama Mas,”
ucap Layla yang membuat Rangga tersipu dan merutuki mamanya sendiri karena
langsung mengkode keras istrinya.
“Adek
pengen pacaran kayak gimana?” tanya Rangga yang membuat Layla jadi salah
tingkah.
“Em…i-itu…anu…a-ak-aku…aku…”
Rangga menaikkan sebelah alisnya melihat Layla yang gugup dan salah tingkah
itu. “A-aku mau mandi!” ucapnya lalu kabur yang lagi-lagi sukses membuat Rangga
tertawa.
Istriku…batin
Rangga senang.