0
Home  ›  Chapter  ›  My Little Wife

Bab 4 : Lost Contac

Bab 4 : Lost Contac-1

Setelah makan siang Rangga datang ke rumah Layla. Kali ini ia pergi tanpa mengabari Cika, bukan hanya karena masalah semalam tapi juga karena Cika tengah pergi syuting di Amsterdam untuk film barunya. Jika harinya selalu diisi untuk berkabar dengan Cika maka hari ini Rangga menydahi semuanya.

“Iya tolong di atasnamakan Cika semua, untuk panti asuhan jadikan atasnamaku saja,” ucap Rangga sambil menelfon kuasa hukum Cika yang membantunya mengurus surat-surat berkoordinasi dengan kuasa hukumnya.

Rangga ingin semuanya selesai dan ia ingin Cika tak pergi dengan tangan kosong dan takperlu memikirkan hal berat. Rangga hanya ingin saat Cika pergi dan bisa move on darinya ia hanya perlu bersenang-senang dan menata hidupnya kembali. Itu rasanya sudah lebih dari cukup untuknya.

“Mas, udah lama nunggu?” tanya Layla yang datang menyuguhkan minuman untuk Rangga.

Rangga hanya tersenyum lalu menggeleng. “Baru kok, makasih,” ucapnya.

“Tunggu sebentar ya, Abah mau ikutan katanya,” ucap Layla yang tampak sudah rapi siap pergi pada Rangga.

“Iya, gapapa,” ucap Rangga lalu buru-buru keluar karena teringat sesuatu. “Ini buat kamu,” ucap Rangga yang membawakan buket mawar berwarna merah. Ukurannya kecil hanya ada 10 tangkai didalamnya tapi bagi Layla yang tak pernah dapat bunga atau hadiah dari lawan jenis sebelumnya, rasanya ini sudah membuatnya senang dan berbunga-bunga.

“Wah! Terimakasih, Mas,” seru Layla yang begitu ceria menerima pemberian Rangga lalu buru-buru masuk ke kamarnya yang membuat Rangga heran.

“Cie cie dapet bunga!” ledek Rian, si anak tengah yang melihat adiknya sedang kasmaran dan salah tingkah.

Rangga jadi paham kenapa Layla langsung berlari masuk.

“Rian,” sapa Rian pada Rangga sambil menyaliminya. “Abangnya Layla,” lanjurnya memperkenalkan diri.

“Rangga,” jawab Rangga ikut memperkenalkan diri dan lanjut dengan segala basa-basi yang sebenarnya Rian hanya ingin  mengklarifikasi soal berita yang beredar di internet. Rasanya Rangga juga paham atas hal itu jadi tetap meladeninya.

“Bang, Abah sama Mbak Aya kapan sampe?” tanya Farah yang datang membawakan cemilan sembari bersiap.

“Udah OTW katanya, abis nganterin suaminya cek gudang,” jawab Rian santai.

Baca juga 29. Vol. 3 : Chapter 12

“Suruh cepetan, gak enak udah di tunggu…” pinta Farah yang merasa sungkan pada Rangga.

Rangga memperhatikan tiap kegiatan di rumah Layla selama menunggu Abahnya pulang. Membayangkan betapa hangat saat ia bisa bergabung nanti. Bukan berarti keluarga Cika tak menerimanya dengan hangat. Tapi budaya barat yang ada disana membuatnya kurang merasa nyaman.

“Assalamualaikum!” sapa Datuk Rafiq begitu masuk rumah menyapa Rangga dengan ceria.

“Waalaikum salam,” saut Rangga lalu menyalimi Datuk Rafiq sebelum Farah dan Layla datang dan mengajak Datuk Rafiq kembali pergi menemani mereka membeli cincin.

***

Cika memandangi ponselnya yang tak mendapat pesan sedikitpun dari Rangga. Biasanya akan ada pesan-pesan yang biasanya ia anggap alay dan membosankan dan terkesan basa-basi. Tapi kali ini sungguh ia merindukannya. Sekedar menyapa selamat siang, atau sudah makan belum, dan kiriman foto kegiatan random yang Rangga lakukan pun tak masalah.

Tapi kali ini tak satupun pesan masuk ke ponselnya. Bahkan pesan yang ia kirim terakhir saat sampai di Amsterdam juga tak di balas Rangga. Entah sudah dibaca atau belum, tapi yang Cika tau Rangga mematikan notifikasi tanda di baca pada WhatsAppnya.

Cika tertawa pelan lalu menghela nafas sembari menghirup udara dingin Amsterdam yang menyejukkan. Mengingat dulu ia sering sekali mengabaikan pesan dari Rangga bahkan kadang sengaja mengarsipkannya hingga berhari-hari, hingga Rangga mencarinya ke lokasi syuting dan akhirnya membeli apartemen agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Masa-masa yang indah.

“Coklat panas, Cik…” tawar Hans lawan main Cika pada film kali ini dengan ramah dan perhatian, sengaja untuk membangun kemistri dalam perannya.

Cika mengangguk dengan canggung lalu menerima segelas coklat panas dari Hans. Hans memang perhatian dan terlihat dewasa, terlihat penyayang dan yah…bisa untuk sandaran di usianya yang lebih muda daripada Cika. Hans punya karakternya sendiri, kharismanya juga begitu memikat sedikit aneh kenapa ia bisa putus dengan mantan sebelumnya.

Baca juga 28. Vol.3 : Chapter 11

Tapi terlepas dari itu semua Cika masih merindukan Rangga. Lebay memang kedengarannya, baru sehari bahkan belum 24 jam mereka berpisah. Rasanya sudah begitu rindu. Rindu yang berbeda, entah apa yang dirindukan. Perasaannya campur aduk, ada firasat buruk yang mengatakan jika ini sudah selesai namun Cika mencoba mengabaikannya.

“Ini nanti kita perannya mesra, gapapa emangnya?” tanya Hans yang tau jika Cika masih belum putus dengan Rangga. Bahkan masih memakai wallpaper foto bersamanya saat liburan di Disney Land Jepang.

Cika mengangguk tanpa ragu sambil tersenyum untuk menguatkan dan mengusir kekhawatiran Hans. “Santai aja Hans,” jawabnya sembari menyibakkan rambutnya. “Lo sendiri gimana?” Cika balik bertanya.

Hans mengambil nafas dalam. “Santai juga sih,” jawabnya sembari mengangguk dan mengusap tengkuknya sendiri.

“Nanti kita reading bareng yuk!” ajak Cika dengan ramah sebagai senior di dunia entertaiment dan lawan mainnya.

Hans langsung mengangguk dengan semangat lengkap dengan senyum cerianya. Hans begitu antusia. Pria berdarah campuran yang sama dengan Cika itu tampaknya tak pandai menutupi perasaannya.

Cika tertawa kecil melihat respon Hans, seperti anjing golden redriver yang baru saja dielus kepalanya. Tak selang lama setelah tawarannya itu Hans juga jadi begitu menempel padanya begitu saja. Mengikuti kemana Cika melangkah, membawakan belanjaannya sembari sesekali menunjukkan hal-hal random yang baginya keren pada Cika dengan antusias.

“Hans…”

“Hmm?” saut Hans sambil melahap burgernya upah lelahnya setelah berjalan mengikuti Cika.

“Lo…tau skandal gue gak?” tanya Cika ragu dan sekarang merasa tolol setelah sudah menanyakan itu pada Hans.

Hans langsung mengangguk sambil mengunyah.

“Ini film ketiga lo, kan?”

Hans kembali mengangguk sembari memelankan kunyahannya. “Terimakasih senior sudah berkenan untuk beradu akting denganku!” seru Hans bangga sembari membungkukkan badan memberi hormat pada Cika.

Cika kembali tertawa melihat respon Hans sambil geleng-geleng kepala. “Lo ga masalah kalo nanti di sangkut pautin sama…”

“Skandalmu? Aku lawan! Aku udah siapin cara buat ngeskak media yang nyudutin kita! Mamaku juga dukung, dia fansmu. Begitu aku kasih tau main sama kamu dia full suport!”

“Hah?!” Cika tak menyangka Hans akan mengatakan itu.

“Kenapa? Itu masalalu. Skandal, semua orang pernah bikin salah. Lagian ga ada yang mau apes kayak kamu, Kim Kardasian juga pernah kena skandal kayak gitu. I think that’s not a big deal, santai aja,” jawab Hans lalu menelan makanan yang ada di mulutnya. “Dulu waktu SD aku pernah gak sengaja kecipirit, tainya jatuh di lantai. Karena takut aku jadi ngompol juga. Selama 6 tahun aku di ejek Bule Taik, terus tiba-tiba nyebar keseluruh sekolah. Aku gak pernah nyangka itu akan di ingat sangat lama sama mereka. Aku udah jelasin alasannya kenapa. Tapi gak ada yang denger. Aku paham perasaanmu, gimana posisimu. M-maksudku…em…mungkin bukan dalam posisi yang sama. T-tap-tapi…ini…”

Cika tersenyum lalu mengangguk bisa memahami maksud ucapan Hans dengan segala ketulusannya. Sementara Hans masih bingung meluruskan maksud ucapannya yang bahkan tak perlu diluruskan lagi. Dan Cika berharap pemikiran seperti Hans bisa ia dapat pada Rangga.

 Bab 4 : Lost Contac-2

8
Posting Komentar
Search
Menu
Theme
Share