Bab 4 : Lost Contac
Setelah
makan siang Rangga datang ke rumah Layla. Kali ini ia pergi tanpa mengabari
Cika, bukan hanya karena masalah semalam tapi juga karena Cika tengah pergi
syuting di Amsterdam untuk film barunya. Jika harinya selalu diisi untuk
berkabar dengan Cika maka hari ini Rangga menydahi semuanya.
“Iya tolong
di atasnamakan Cika semua, untuk panti asuhan jadikan atasnamaku saja,” ucap
Rangga sambil menelfon kuasa hukum Cika yang membantunya mengurus surat-surat
berkoordinasi dengan kuasa hukumnya.
Rangga
ingin semuanya selesai dan ia ingin Cika tak pergi dengan tangan kosong dan
takperlu memikirkan hal berat. Rangga hanya ingin saat Cika pergi dan bisa move
on darinya ia hanya perlu bersenang-senang dan menata hidupnya kembali. Itu
rasanya sudah lebih dari cukup untuknya.
“Mas, udah
lama nunggu?” tanya Layla yang datang menyuguhkan minuman untuk Rangga.
Rangga
hanya tersenyum lalu menggeleng. “Baru kok, makasih,” ucapnya.
“Tunggu
sebentar ya, Abah mau ikutan katanya,” ucap Layla yang tampak sudah rapi siap
pergi pada Rangga.
“Iya,
gapapa,” ucap Rangga lalu buru-buru keluar karena teringat sesuatu. “Ini buat
kamu,” ucap Rangga yang membawakan buket mawar berwarna merah. Ukurannya kecil
hanya ada 10 tangkai didalamnya tapi bagi Layla yang tak pernah dapat bunga
atau hadiah dari lawan jenis sebelumnya, rasanya ini sudah membuatnya senang
dan berbunga-bunga.
“Wah!
Terimakasih, Mas,” seru Layla yang begitu ceria menerima pemberian Rangga lalu
buru-buru masuk ke kamarnya yang membuat Rangga heran.
“Cie cie
dapet bunga!” ledek Rian, si anak tengah yang melihat adiknya sedang kasmaran
dan salah tingkah.
Rangga jadi
paham kenapa Layla langsung berlari masuk.
“Rian,”
sapa Rian pada Rangga sambil menyaliminya. “Abangnya Layla,” lanjurnya
memperkenalkan diri.
“Rangga,”
jawab Rangga ikut memperkenalkan diri dan lanjut dengan segala basa-basi yang
sebenarnya Rian hanya ingin
mengklarifikasi soal berita yang beredar di internet. Rasanya Rangga
juga paham atas hal itu jadi tetap meladeninya.
“Bang, Abah
sama Mbak Aya kapan sampe?” tanya Farah yang datang membawakan cemilan sembari
bersiap.
“Udah OTW
katanya, abis nganterin suaminya cek gudang,” jawab Rian santai.
“Suruh
cepetan, gak enak udah di tunggu…” pinta Farah yang merasa sungkan pada Rangga.
Rangga
memperhatikan tiap kegiatan di rumah Layla selama menunggu Abahnya pulang.
Membayangkan betapa hangat saat ia bisa bergabung nanti. Bukan berarti keluarga
Cika tak menerimanya dengan hangat. Tapi budaya barat yang ada disana
membuatnya kurang merasa nyaman.
“Assalamualaikum!”
sapa Datuk Rafiq begitu masuk rumah menyapa Rangga dengan ceria.
“Waalaikum
salam,” saut Rangga lalu menyalimi Datuk Rafiq sebelum Farah dan Layla datang
dan mengajak Datuk Rafiq kembali pergi menemani mereka membeli cincin.
***
Cika
memandangi ponselnya yang tak mendapat pesan sedikitpun dari Rangga. Biasanya
akan ada pesan-pesan yang biasanya ia anggap alay dan membosankan dan terkesan
basa-basi. Tapi kali ini sungguh ia merindukannya. Sekedar menyapa selamat
siang, atau sudah makan belum, dan kiriman foto kegiatan random yang Rangga
lakukan pun tak masalah.
Tapi kali
ini tak satupun pesan masuk ke ponselnya. Bahkan pesan yang ia kirim terakhir
saat sampai di Amsterdam juga tak di balas Rangga. Entah sudah dibaca atau
belum, tapi yang Cika tau Rangga mematikan notifikasi tanda di baca pada
WhatsAppnya.
Cika
tertawa pelan lalu menghela nafas sembari menghirup udara dingin Amsterdam yang
menyejukkan. Mengingat dulu ia sering sekali mengabaikan pesan dari Rangga
bahkan kadang sengaja mengarsipkannya hingga berhari-hari, hingga Rangga
mencarinya ke lokasi syuting dan akhirnya membeli apartemen agar mereka bisa
menghabiskan waktu bersama. Masa-masa yang indah.
“Coklat
panas, Cik…” tawar Hans lawan main Cika pada film kali ini dengan ramah dan
perhatian, sengaja untuk membangun kemistri dalam perannya.
Cika
mengangguk dengan canggung lalu menerima segelas coklat panas dari Hans. Hans
memang perhatian dan terlihat dewasa, terlihat penyayang dan yah…bisa untuk
sandaran di usianya yang lebih muda daripada Cika. Hans punya karakternya
sendiri, kharismanya juga begitu memikat sedikit aneh kenapa ia bisa putus
dengan mantan sebelumnya.
Tapi
terlepas dari itu semua Cika masih merindukan Rangga. Lebay memang
kedengarannya, baru sehari bahkan belum 24 jam mereka berpisah. Rasanya sudah
begitu rindu. Rindu yang berbeda, entah apa yang dirindukan. Perasaannya campur
aduk, ada firasat buruk yang mengatakan jika ini sudah selesai namun Cika
mencoba mengabaikannya.
“Ini nanti
kita perannya mesra, gapapa emangnya?” tanya Hans yang tau jika Cika masih
belum putus dengan Rangga. Bahkan masih memakai wallpaper foto bersamanya saat
liburan di Disney Land Jepang.
Cika
mengangguk tanpa ragu sambil tersenyum untuk menguatkan dan mengusir
kekhawatiran Hans. “Santai aja Hans,” jawabnya sembari menyibakkan rambutnya.
“Lo sendiri gimana?” Cika balik bertanya.
Hans
mengambil nafas dalam. “Santai juga sih,” jawabnya sembari mengangguk dan
mengusap tengkuknya sendiri.
“Nanti kita
reading bareng yuk!” ajak Cika dengan ramah sebagai senior di dunia
entertaiment dan lawan mainnya.
Hans
langsung mengangguk dengan semangat lengkap dengan senyum cerianya. Hans begitu
antusia. Pria berdarah campuran yang sama dengan Cika itu tampaknya tak pandai
menutupi perasaannya.
Cika
tertawa kecil melihat respon Hans, seperti anjing golden redriver yang baru
saja dielus kepalanya. Tak selang lama setelah tawarannya itu Hans juga jadi
begitu menempel padanya begitu saja. Mengikuti kemana Cika melangkah,
membawakan belanjaannya sembari sesekali menunjukkan hal-hal random yang
baginya keren pada Cika dengan antusias.
“Hans…”
“Hmm?” saut
Hans sambil melahap burgernya upah lelahnya setelah berjalan mengikuti Cika.
“Lo…tau
skandal gue gak?” tanya Cika ragu dan sekarang merasa tolol setelah sudah
menanyakan itu pada Hans.
Hans
langsung mengangguk sambil mengunyah.
“Ini film
ketiga lo, kan?”
Hans
kembali mengangguk sembari memelankan kunyahannya. “Terimakasih senior sudah
berkenan untuk beradu akting denganku!” seru Hans bangga sembari membungkukkan
badan memberi hormat pada Cika.
Cika
kembali tertawa melihat respon Hans sambil geleng-geleng kepala. “Lo ga masalah
kalo nanti di sangkut pautin sama…”
“Skandalmu?
Aku lawan! Aku udah siapin cara buat ngeskak media yang nyudutin kita! Mamaku
juga dukung, dia fansmu. Begitu aku kasih tau main sama kamu dia full suport!”
“Hah?!”
Cika tak menyangka Hans akan mengatakan itu.
“Kenapa?
Itu masalalu. Skandal, semua orang pernah bikin salah. Lagian ga ada yang mau
apes kayak kamu, Kim Kardasian juga pernah kena skandal kayak gitu. I think
that’s not a big deal, santai aja,” jawab Hans lalu menelan makanan yang
ada di mulutnya. “Dulu waktu SD aku pernah gak sengaja kecipirit, tainya jatuh
di lantai. Karena takut aku jadi ngompol juga. Selama 6 tahun aku di ejek Bule
Taik, terus tiba-tiba nyebar keseluruh sekolah. Aku gak pernah nyangka itu akan
di ingat sangat lama sama mereka. Aku udah jelasin alasannya kenapa. Tapi gak
ada yang denger. Aku paham perasaanmu, gimana posisimu. M-maksudku…em…mungkin
bukan dalam posisi yang sama. T-tap-tapi…ini…”
Cika
tersenyum lalu mengangguk bisa memahami maksud ucapan Hans dengan segala
ketulusannya. Sementara Hans masih bingung meluruskan maksud ucapannya yang
bahkan tak perlu diluruskan lagi. Dan Cika berharap pemikiran seperti Hans bisa
ia dapat pada Rangga.